Ekonomi

TPID Konsisten dan Intensif Lakukan 4K, Bank Indonesia Bali Yakin Inflasi 2024 Terkendali Rentang Sasaran 2,5±1%

Denpasar, hariandialog.co.id – TPID Provinsi dan Kab./Kota di Bali konsisten melakukan pengendalian inflasi dalam kerangka kebijakan 4K antara lain: (1) Pelaksanaan kegiatan operasi pasar murah dan pemantauan harga terus diintensifkan, terutama komoditas bahan pangan strategis; (2) Himbauan Penjabat Gubernur Bali kepada jajaran di Kab//kota memanfaatkan lahan pemerintah Provinsi agar ditanami bahan pokok salah satu langkah pengendalian inflasi; (3 Mendorong kerja sama antar daerah dan pemberian benih unggul beberapa Kabupaten, seperti Badung dan Tabanan; dan (4) Pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID tingkat Provinsi dan Kabupaten.

“ Maka melalui langkah ini, Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2024 tetap akan terjaga dan terkendali rentang sasaran 2,5±1%, “ ungkap Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja, dalam siaran pers Bank Indonesia Bali 3 Juni 2024.

Erwin menjelaskan, Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, perkembangan harga Provinsi Bali Mei 2024 secara bulanan mengalami deflasi sebesar -0,10% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm) dan lebih dalam dibandingkan deflasi nasional sebesar -0,03% (mtm). Namun secara tahunan, inflasi Provinsi Bali sebesar 3,54% (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,84% (yoy).

Secara spasial, Singaraja mengalami deflasi paling dalam yaitu sebesar -0,33% (mtm) atau 2,92% (yoy), diikuti Tabanan mengalami deflasi sebesar -0,28% (mtm) atau 3,56% (yoy), Badung mengalami deflasi sebesar -0,09% (mtm), atau 4,01% (yoy), dan Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,05% (mtm), atau 3,52% (yoy). Berdasarkan komoditasnya, deflasi terutama bersumber dari penurunan harga beras, tomat, daging ayam ras, sawi hijau, dan cabai rawit.

, Penurunan harga beras dan cabai rawit didorong melimpahnya pasokan sehubungan masuknya musim panen raya di Provinsi Bali. Penurunan harga tomat dan sawi hijau sejalan meningkatnya pasokan dari Jawa dan membaiknya cuaca. Selanjutnya, penurunan daging ayam ras didorong meningkatnya pasokan dari Jawa dan menurunnya harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak. Sementara itu, laju deflasi lebih dalam tertahan peningkatan harga bawang merah dan tarif parkir.

Untuk Juni 2024, terdapat beberapa risiko perlu diwaspadai antara lain kenaikan harga minyak kelapa sawit global berpotensi merambat ke harga minyak goreng dan bahan bakar dalam negeri, ketidakpastian cuaca memengaruhi kesuburan tanaman, termasuk tanaman gumitir salah satu komponen canang sari, serta adanya konflik global berpotensi berpengaruh pada harga komoditas global dapat merambat ke harga-harga dalam negeri.

“Namun, terdapat beberapa faktor yang berpotensi menahan kenaikan inflasi lebih tinggi, diantaranya peningkatan alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat dan penurunan harga jagung global sebagai bahan baku ternak, khususnya daging ayam ras dan telur ayam ras, “ terang Erwin. (nn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kirim pesan
Trimakasih Telah Mengunjungi Website Kami