Nasional

Korban Terus Berjatuhan dan Tambah: Judi Online Ada Untuk Membunuh

Jakarta, hariandialog.co.id.–        Judi online atau perjudian yang
menggunakan alat komunikasi internet terus meraja lela di Nusantara
ini. Walau sudah dilarang pemerintah melalui aparatnya Kepolisian,
tapi tetap berkibar bendera judi online baik itu slot, dadu, domino
dan banyak jenis permainannya.

            Padahal, agama manapun melarang bermain judi. Bahkan,
pemerintah melalui undang-undangnya menyebutkan bahwa pelaku atau
pengelola perjudian diancam pidana sebagaimana pada Pasal 303 KUHP dan
bila permainan menggunakan alat komunikasi ditambah dengan
Undang-Undang Informasi Teknologi (IT).

            Memang, seperti yang diumbarkan para orang pedahulu “Jauhi
Permainan Judi, Karena pemain tidak pernah akan menang dan kaya dari
hasil judi tapi bandar atau pengelolalah yang kaya raya dari usaha
perjudian”. Dan bila dirurut itu semua benar adanyaa. Para pengelola
atau bandar sehat sehat semua dan bahkan terus kaya, sementara pemain
atau pemasang hancur, jadi orang miskin bahkan gembel dan ironisnya
rumah tangga berantakan. Tidak sampai disitu sudah malah permasalahan
tren bunuh membunuh serta bunuh diri akibat dari barmain judi.

            Seperti baru-baru ini digemborkan oleh berita seorang
istri bernama Fadhilatun Nikmah (Polisi wanita alias Polwan) dengan
pankat Briptu  membakar hidup-hidup suaminya yang juga polisi yaitu
Rian Dwi dengan pangkat yang sama akibat terus menerus kalah main judi
slot. Bahkan, diberita itu, gaji bulan ketiga belas yang diberikan
pemerintah melalui institusinya juga berkurang dan ini semua gara-gara
sang suami main judi jenis Slot.

            Korban di kasus Polwan bakar suaminya yang juga polisi
bukan hanya si pelaku masuk penjara dan si korban meningga dunia tapi
orang dekatnya yaitu buah hati pasangan kelaurga ini juga korban dalam
hal ini tiga orang anak-anaknya masih kecil-kecil korban judi online.

            Di Sumatera utara tepatnya di Dusun VI, Pasar 15, Desa
medan Sinembah, Tanjugn Marawa, Deli Serdang, seorang istri berinitial
HASM (21) nekat membakar hidup-hidup siuaminya Jurdhi (22) akibat
terus menerus main judi. Ini juga menyisahkan korban meninggal dan
sang istri masuk penjara.

            Warga Perumahan Ad-Dzikro, kelurahan Batukuning, Baturaja
Barat, Ogan Komering, Sumatera Selatan, berinitial YAP meninggal
dengan cara bunuh diri akibat terlilit utang akibat main judi online.
Kejadian ini terlihat jelas dari surat yang ditemukan sang istri
dibuat korban di atas secarik kertas. Cukup memilukan karena surat
tersebut menyedihkan karena  posisi si istri berinitial DW dalam
keadaan hamil anak kembar lagi.

            Masih korban dari judi online, seorang supir truk
berinitial MN asal Pringsewu, Lampung, sengaja bunuh diri dipintu
kendaraan yang dikemudikannya. Pria itu bunuh diri saat kendaraannya
parkir di rest area Kilometer 52, Cikande, Serang, Banten.

            Masih terkait supir bunuh diri juga terjadi di kota
Samarinda, Kalimantan Timur, pria berinitial TM (25), sengaja gantung
diri alias bunuh diri di kamar mandi dan ini akibat masalah keuangan
yang banyak utang akibat kalah judi. Dan masalah keuangan ini
diceritakan rekannya saat masih hidup dan hal tersebut akibat bermain
judi online.

            Seperti diungkap Rahman Mangussara dari Founder Center For
Financial and Digital Literacy, bahwa judi online sudah merusak
sendi-sendi keluarga. Diungkapkan sejak 2023 hingga April 2024 ada 14
kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang dipicu oleh Judi
Online. Mereka yang bunuh diri akibat judi online di usia antara 19
hingga 30 tahun.

            Dan paling memilukan akibat judi  online perceraian pun
ada saja muncul. Pertengkaran demi pertengakaran dalam rumah tangga
terus berkecamuk hingga berakhir ke meja hijau di Pengadilan yang
intinya minta cerai akibat ekonomi dimana sang suami hobbi main judi
online.  Sang suami saat masih bersama lebih mementingkan main judi
oneline dari pada memberikan uang buat belanja.

            Seperti yang diberitakan viva news, sejak Januari 2024
hingga Mei 2024, sebanyak 215 kasus perceraian yang disebabkan karena
kecanduan judi online. Dan para ibu rumah tangga yang minta cerai
melalui pengadilan relatif masih muda karena usianya antara 20 hingga
30 tahun.

            Menurut Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikin,
para ibu rumah tangga yang minta cerai atau diceraikan itu berlatar
pendidikan, SD, SMP dan SLTA. Dan mereka yang bercerai itu bukan lah
perkawinan muda tapi sudah ada 8 tahun berumah tangga, tapi harus
bubar akibat judi online.

            Masih banyak korban kasus judi online yang tidak
ter-ekspos, Namun, demikian pemerintah telah berusaha untuk membasmi
keberadaan judi online dengan membentuk Satgas Judi Online yang
melibatkan Polri, Kemenkominfo, Otoritas Jasa Keuangan, Perbankan
dalam hal ini Bank Indonesia. Namun, masih menjamur saja judi online
dan korban terus bertambah.  Sampai kapankan Indonesia terbebas dari
area perjuian online. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kirim pesan
Trimakasih Telah Mengunjungi Website Kami