Hukum dan Kriminal

Walau Sudah Dikembalikan Uang Suap BTS 4-G: Terdakwa Achsanul Qosasi Dihukum 2,6 Tahun

Jakarta, hariandialog.co.id.- Majelis hakim menyatakan eks anggota III
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi terbukti secara sah dan
meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi penyuapan. Hakim Ketua
Fahzal Hendri mengatakan perbuatan Achsanul terbukti dalam perkara
Base Transceiver Station 4G Kementerian Komunikasi dan Informatika
atau BTS 4G Kominfo. “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Achsanul
Qosasi selama dua tahun enam bulan penjara dan denda Rp 250 juta,”
kata Fahzal saat membaca putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
Jakarta pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 20 Juni 2024.

          Apabila Achsanul tidak membayar denda, maka akan diganti
pidana empat bulan penjara. Vonis ini lebih rendah daripada tuntutan
jaksa penuntut umum yang minta Achsanul dijatuhi lima tahun penjara
dan denda Rp 500 juta.

           Dalam perkara suap BPK ini, bekas anggota III BPK itu
terbukti menerima suap 2,64 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp
40 miliar untuk memberi opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap
proyek BTS 4G pada 2021 di Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan
Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (BAKTI Kominfo). Dia
menaruh uang itu disebuah rumah yang disewa di Kemang, Jakarta
Selatan.

          Uang suap diterima dari Direktur PT Multimedia Berdikari
Sejahtera Windi Purnama. Sumber uangnya berasal dari Komisaris PT
Solitech Media Sinergy Irwan Hermawan atas perintah Direktur Utama
BAKTI Kominfo Anang Achmad Latif. Uang itu diserahkan kepada Achsanul
melalui pihak swasta yang juga merupakan orang kepercayaan Achsanul,
yaitu Sadikin Rusli.

            Achsanul melanggar Pasal 12 huruf e, Pasal 5 ayat (2),
Pasal 12 B, dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab
Undang-Undang Hukum Pidama (KUHP).

          Dia telah mengembalikan uang suap sebesar 2.021.000 dolar
Amerika Serikat atau setara Rp 31,4 miliar kepada penyidik Kejaksaan
Agung. Namun Achsanul dalam nota pembelaannya di persidangan meminta
agar dibebaskan karena memiliki tanggung jawab kepengurusan pondok
pesantren di Sumenep, Madura, Jawa Timur dan koperasi simpan pinjam di
Jakarta Selatan dengan 11 ribu nasabah.

          “Mohon pertimbangannya Yang Mulia, saya punya tanggung
jawab, saya punya koperasi simpan pinjam dan juga pondok pesantren,”
kata Achsanul Qosasi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta
Pusat, Selasa, 28 Mei 2024. (red-01).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kirim pesan
Trimakasih Telah Mengunjungi Website Kami