
JAKARTA, hariandialog.co.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah pola masyarakat dalam memperoleh informasi. Kondisi tersebut mendorong media dan lembaga publik untuk menyesuaikan strategi penyebaran informasi agar tetap mudah ditemukan dan dipercaya di tengah dominasi pencarian berbasis AI.
Wakil Ketua Komisi Informasi (KI) DKI Jakarta, Luqman Hakim Arifin, menilai perubahan perilaku tersebut perlu menjadi perhatian serius, termasuk dalam penyajian informasi mengenai keterbukaan informasi publik.
Menurutnya, masyarakat kini tidak lagi hanya mengandalkan situs berita untuk mendapatkan informasi. Kehadiran fitur pencarian berbasis AI membuat publik mulai memperoleh jawaban secara langsung melalui teknologi tersebut.
“Kalau dulu mungkin orang mengakses berita di website, tetapi saat ini justru bergeser ke AI Overview. Karena itu berita-berita yang ada di KI mesti dibuat dengan mempertimbangkan tren AI ini,” ujar Luqman dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Keterbukaan Informasi Publik di Era AI: Peran Pers dan Media Siber”, Senin (5/10/2026).
Mengikuti Perubahan Teknologi
Luqman mengatakan, forum diskusi mengenai AI menjadi salah satu langkah untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi sekaligus merumuskan strategi baru dalam memperkuat keterbukaan informasi publik.
Ia berharap FGD tersebut tidak berhenti pada pembahasan mengenai perkembangan teknologi, tetapi menghasilkan masukan yang dapat diterapkan dalam memperluas jangkauan informasi publik.
“Melalui FGD ini, harapannya dapat menghasilkan catatan serta rekomendasi konkret untuk memperkuat sinergi dengan media, sehingga sosialisasi dan edukasi KIP semakin dikenal, dipahami, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jakarta,” katanya.
Menurut Luqman, pers dan media memiliki posisi penting dalam ekosistem keterbukaan informasi karena menjadi salah satu jalur utama masyarakat memperoleh informasi dari lembaga publik.
Mengejar Kredibilitas
Narasumber FGD, Ilona Juwita, mengungkapkan perubahan perilaku pengguna internet telah menjadikan AI sebagai salah satu pintu baru dalam mencari berita.
Ia mengutip Reuters Institute Digital News Report 2026 yang menyebutkan 12 persen masyarakat Indonesia menggunakan AI chatbot sebagai sumber berita mingguan. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi keempat dunia.
Ilona juga menyebut tingkat kepercayaan pengguna terhadap AI setelah mencobanya mencapai 44 persen. Sementara itu, 33 persen masyarakat Indonesia disebut mengakses ChatGPT setiap bulan.
Fenomena tersebut kemudian melahirkan pola pencarian yang dikenal sebagai zero-click, yakni kondisi ketika pengguna mendapatkan jawaban tanpa harus membuka laman sumber.
“68 persen pencarian di AS pada awal 2026 berakhir tanpa klik ke situs web. Meskipun konten dikutip oleh AI, belum tentu menghasilkan traffic langsung ke media,” ujar Ilona.
Perubahan itu, lanjut dia, membuat media perlu memperluas strategi dari sekadar mengandalkan Search Engine Optimization (SEO) menuju Generative Engine Optimization (GEO).
Dalam pendekatan GEO, konten tidak cukup hanya dibuat agar muncul di mesin pencari. Informasi juga harus memiliki fakta yang kuat, struktur yang jelas, serta kredibilitas yang dapat dikenali sistem AI.
Prinsip Experience, Expertise, Authoritativeness, dan Trustworthiness (E-E-A-T) pun menjadi semakin penting dalam membangun kepercayaan sekaligus meningkatkan peluang sebuah konten dirujuk oleh AI.
Media Lokal Punya Keunggulan
Menariknya, perkembangan AI justru dinilai membuka peluang lebih besar bagi media lokal.
Ilona menjelaskan, konten yang mengangkat peristiwa secara langsung dan isu yang sangat spesifik di suatu wilayah memiliki keunggulan karena tidak banyak diproduksi oleh media lain.
“Situs berita atau media lokal yang menyajikan reportase first-hand dan isu hyperlocal punya keunggulan struktural karena persaingan yang lebih rendah dan kekhasan informasi yang tinggi,” jelasnya.
Dengan demikian, media lokal tidak harus selalu bersaing pada isu nasional yang memiliki tingkat kompetisi tinggi. Reportase yang dekat dengan kehidupan masyarakat justru dapat menjadi sumber informasi yang memiliki nilai tambah bagi ekosistem AI.
Perluas Jangkauan
Pandangan serupa disampaikan Penerus Bonar. Ia menilai kerja sama antara Komisi Informasi dan media menjadi semakin penting untuk memperluas jangkauan isu keterbukaan informasi publik.
Menurut Bonar, informasi yang diproduksi lembaga publik dan diberitakan secara konsisten oleh berbagai media memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke dalam ekosistem pencarian berbasis AI.
“Dengan kolaborasi dan pendistribusian informasi, berita di berbagai media, maka tentu saja punya potensi masuk dalam pencarian berbasis AI,” kata Bonar.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemudahan teknologi AI tidak boleh menghilangkan proses jurnalistik yang mendasar, terutama verifikasi informasi.
AI, kata Bonar, seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti tanggung jawab manusia dalam menghasilkan sebuah berita.
“AI ini alat bantu saja, tetap butuh verifikasi. Karena pada akhirnya yang bertanggung jawab terhadap penulisnya, bukan AI,” tegasnya.
Perubahan ekosistem informasi tersebut pada akhirnya menempatkan media pada tantangan baru: bukan hanya bagaimana membuat berita dibaca manusia, tetapi juga bagaimana informasi yang akurat, kredibel, dan memiliki nilai publik dapat dikenali serta dirujuk oleh sistem AI.(tur)
