Mantan Guru SMP Gibran Tudingan MK Mustahil
Surakarta, hariandialog.co.id.-
Mantan guru Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Surakarta, Rohwati, mengaku sakit hati merespons tuduhan yang menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak lulus SMA.
Tuduhan tersebut mencuat usai Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan tidak menemukan ijazah luar negeri Gibran yang setara SMA dalam berkas putusan persidangan.
Rohwati menegaskan bahwa tudingan tersebut mustahil terjadi.
Menurutnya, Gibran merupakan siswa cerdas yang berhasil masuk ke sekolah menengah pertama unggulan tersebut murni berdasarkan kemampuan akademiknya, jauh sebelum sang ayah, Joko Widodo, menjabat sebagai Wali Kota Solo.
“Kalau saya agak sakit hati. Nggak mungkin terjadi. Sekelas Pak Jokowi putranya tidak lulus SMA saya tidak mungkin. Terutama saya sebagai gurunya saya termasuk yang tidak terima. Bukan anak bodoh anak titipan. Dan memang keterima murni semua,” ungkap Rohwati saat ditemui Tribun Solo di Gedung Wanita Sasana Krida Kusuma, Solo, Jawa Tengah, Kamis (8/10/2026).

SAKIT HATI – Mantan Guru Bahasa Jawa SMP N 1 Surakarta Rohwati, saat ditemui di Gedung Wanita Sasana Krida Kusuma, Kamis (8/10/2026). Ia mengaku sakit hati mendengar anggapan bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak lulus SMA setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan tidak menemukan ijazah yang dianggap setara dengan SMA dalam putusannya. (Tribunnews/Tribun Solo/Ahmad Syarifudin)
Guru yang mengajar Gibran pada kurun waktu 1999–2002 ini mengungkapkan, putra sulung Presiden ke-7 RI itu memiliki kemampuan akademis yang menonjol, terutama pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.
Oleh karena itu, ia menilai sangat wajar apabila Gibran melanjutkan pendidikannya ke Orchid Park Secondary School, Singapura.
“Saya sering mencocokkan dengan Bahasa Inggris termasuk bagus. Makanya ke luar negeri. Wajar banget kalau sekolah di Singapura. Keluarga Pak Jokowi sendiri memang disiapkan sekolah di luar negeri,” jelasnya.
Rohwati menambahkan, prestasi Bahasa Jawa Gibran juga berada di atas rata-rata siswa lainnya.
“Bagus. Mas Gibran termasuk Bahasa Jawanya juga bagus. Biasanya anak-anak yang Bahasa Jawanya bagus Bahasa Inggrisnya juga bagus. Kalau ranking 1 enggak tapi bukan yang di bawah. Bahasa Jawa agak atas,” terangnya.
Selain kemampuan akademis, Rohwati mengenang kepribadian Gibran yang cenderung tenang namun sangat menjunjung tinggi etika (unggah-ungguh) serta kesopanan kepada pendidiknya.
Sikap hormat tersebut bahkan tidak berubah meski Gibran telah menjabat sebagai pejabat publik.
“Kebetulan Pak Jokowi anaknya mengikuti adat. Yang saya tahu sopan banget. Terutama kalau sama guru. Saya saat di luar bercanda sama temannya. Tahu ada gurunya langsung salim.”
“Bahkan sudah jadi Wali Kota saya masih guru ketika tahu cium tangan kalau ketemu gurunya. Dari SMP itu kesan sangat menonjol. Nggak tahu itu mungkin dari rumah. Mas Gibran termasuk yang sopan. Unggah-ungguh bagus,” ungkapnya.
Sikap sopan dan kepastian pendidikan Gibran di luar negeri juga sempat dikonfirmasi langsung oleh Joko Widodo saat menjabat sebagai Wali Kota Solo dalam sebuah acara buka puasa bersama di Loji Gandrung, mengingat anak Rohwati merupakan teman sekelas Kahiyang Ayu.
Isu penyetaraan ijazah ini sendiri bermula dari persidangan MK terkait keabsahan kualifikasi pendidikan luar negeri Gibran.
Meskipun MK menyatakan tidak menemukan bukti fisik ijazah atau sertifikat penyetaraan jenjang SMA dalam berkas perkara, Mahkamah secara tegas tidak pernah menyatakan Gibran terbukti tidak lulus SMA maupun mendiskualifikasikannya dari jabatan Wakil Presiden, tulis tribuneslo. (bing-01)
