
Denpasar, hariandialog.co.id – Keluhan dan kekhawatiran melanda para penumpang maskapai Citilink dengan nomor penerbangan QG 689 rute Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.
Para penumpang mempertanyakan prosedur keselamatan usai mereka diminta naik ke dalam kabin pesawat (boarding) saat proses pengisian bahan bakar (refueling) sedang berlangsung.
Salah seorang penumpang asal Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Ika, menyuarakan kekecewaannya terkait kejadian tersebut. Menurutnya, penerbangan yang sedianya berjalan lancar sempat mengalami keterlambatan (delay) akibat pesawat yang baru tiba di Bandara Ngurah Rai. Namun, situasi memburuk ketika para penumpang justru diarahkan masuk ke dalam pesawat di tengah proses pengisian bahan bakar avtur.
“Waduh kemana nih Menteri Perhubungan? Apakah ini bukan suatu bentuk pelanggaran, menaikkan penumpang ke pesawat saat sedang dalam proses pengisian bahan bakar? Apakah hal seperti ini tidak membahayakan keselamatan penumpang?” ungkap Ika dengan nada penuh keheranan saat diwawancarai, Minggu.
Ika menceritakan bahwa keterlambatan kedatangan pesawat berimbas langsung pada jadwal keberangkatan ke Jakarta. Namun, kebijakan pihak maskapai yang mempercepat proses naik penumpang (boarding) di saat aktivitas pengisian bahan bakar masih berjalan memicu kekhawatiran besar di kalangan penumpang akan potensi bahaya kebakaran atau kecelakaan penerbangan.
Memang pesawat sepertinya terlambat kedatangan dari bandara awal ke Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Pasalnya, seharusnya bording dari Gate 5 di pukul 18.30. Tapi, pihak Citilink memindahkan pintu naik pesawat melalui Gate 3 di pukul 18.50 dan pesawat baru tutup pintu persiapan terbang pukul 19.12. Artinya terlambat.
Kemungkinan untuk mengejar ke terminal tujuan di Jakarta dan selanjutnya, sehingga penumpang dengan nomor penerbangan QG 689, buru dinaikkan melalui Gate 3 walaupun belum seluruhnya penumpang turun dari pesawat. (bing-01)
