Semarang, haiandialog.co.id.- Banjir bandang dan tanah longsor
terjadi di daerah sekeliling Pegunungan Muria sejak akhir pekan lalu.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut penanganan bencana banjir
di Kabupaten Jepara, Pati, dan Kudus tersebut terus berjalan.
“Belum ada penetapan darurat bencana. Status itu ditetapkan apabila
kondisi sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat secara luas dan
fluktuatif,” katanya pada Selasa, 13 Januari 2026. “Namun, kami tetap
siaga apabila terjadi perkembangan yang lebih berat.”
Kejadian bencana banjir di Kabupaten Pati tercatat melanda
59 desa di 15 kecamatan. Kemudian tanah longsor terjadi di 10 desa
pada 3 kecamatan dengan total sekitar 121 lokasi. Mengakibatkan 20
rumah terdampak. Sekitar 80 keluarga atau 264 jiwa terdampak langsung,
serta satu orang meninggal dunia.
Mantan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah itu menyebut
penanganan bencana dan penyaluran bantuan berjalan tanpa hambatan.
“Kami memastikan masyarakat tertangani dengan baik. Kebutuhan pokok
sudah disalurkan,” ujarnya.
Banjir dan tanah longsor di Kabupaten Kudus menyebabkan
tiga korban meninggal dunia. Dua korban meninggal terseret arus banjir
dan satu korban tertimbun material tanah longsor.
Jalur Nasional Pantai Utara atau Pantura Kudus-Pati
terendam banjir luapan Sungai Dawe di Jembatan Ngembalrejo. Banjir
juga menggenangi jalur alternatif antara dua daerah itu.
Akses menuju satu desa di Kabupaten Jepara sempat terputus
setelah banjir menerjang jalan. Puluhan longsor juga terjadi di jalan
menuju Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara itu. Banjir dan
longsor juga menyebabkan jaringan listrik ke sana putus.
Sejumlah rumah warga rusak diterjang banjir dan tertimbun
tanah longsor. Satu tempat penggilingan kopi hanyut. Turut terseret
banjir kopi seberat 5 ton dari lokasi penggilingan.
Akibat longsor, akses jalan utama di Desa Tempur, Kecamatan
Keling putus. Pemerintah Kabupaten Jepara, berupaya membuka jalur
alternatif untuk mencegah terisolasinya desa tersebut.
Camat Keling Lulut Andi Andriyanto di Jepara, pada Ahad
lalu mengatakan saat ini pemerintah bersama sejumlah pihak tengah
melakukan asesmen untuk membuka jalur alternatif melalui
Medono-Kadalan yang tidak melewati titik-titik longsor.”Untuk membuka
jalur alternatif Medono-Kadalan yang tidak melewati lokasi longsor,
saat ini sedang dilakukan asesmen oleh Jip Tanbu Community (JTC),
BPBD, serta relawan, untuk memastikan kelayakan jalur alternatif
Medono-Kadalan sebagai akses darurat bagi masyarakat,” kata dia
seperti dilansir Antara pada Selasa, 13 Januari 2025, tulis tempo.
(bagas-01)
