Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Tak dapat dipungkiri, keberadaan Joko Widodo sebagai calon presiden menjadi faktor utama kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilu 2014 dan 2019. Kini, ketika popularitas Jokowi nyaris menyentuh titik nadir, bahkan ibarat kapal yang mau karam setelah dihantam badai pandemi Covid-19, PDIP pun mencari sekoci untuk menyelamatkan diri. PDIP tak mau ikut karam.
Padahal, nyaris karamnya Jokowi salah satunya karena ia tersandera oleh PDIP dalam mengambil kebijakan-kebijakan. Maklum, Jokowi hanya petugas partai, sehingga tidak bisa leluasa dalam mengambil keputusan. Termasuk dalam memilih menteri-menterinya. Salah satu menteri “bermasalah” yang tetap dipertahankan Jokowi karena tersandera PDIP adalah Manteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.
Kapal Jokowi pun ibarat dilubangi dari dalam. Bukan hanya oleh PDIP, melainkan juga oleh Luhut Pandjaitan yang “Tiongkok minded”. Sedikit-sedikit Tiongkok!
Menggunungnya utang luar negeri, buruknya kinerja kabinet, asumsi Jokowi jauh dari ulama dan hantaman badai Covid-19 membuat kapal Jokowi kian oleng. PDIP pun sekali lagi menyiapkan sekoci. Sekoci itu antara lain Effendi Simbolon dan Masinton Pasaribu.
Kedua anggota DPR RI itu mulai melancarkan serangan-serangan sporadis kepada Jokowi. Terutama terkait penanganan Covid-19 yang mereka nilai tidak becus.
Dengan menyerang Jokowi, mereka berasumsi popularitas PDIP akan terjaga. Mereka sadar, berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga, PDIP tetap “leading” pada 2024 nanti. PDIP tak ingin Jokowi menjadi beban. PDIP ingin melepaskan diri dari bayang-bayang Jokowi.
Di sisi lain, PDIP terus menggenjot elektabilitas Puan Maharani, Ketua PDIP yang juga Ketua DPR RI serta putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Puan mulai dicitrakan sebagai capres 2024. Baliho dan spanduk Puan bertebaran di mana-mana. Wakil-wakil rakyat dari PDIP konon diberi beban untuk memasang gambar Puan. Kata elite PDIP bukan untuk kontestasi Pilpres 2024. Tapi mana publik mau percaya?
Sekeping Uang
Siapa capres PDIP untuk 2024 pun sudah bisa ditebak. Dimulai dengan serangan Bambang “Pacul” Wuryanto, dan juga Effendi Simbolon kepada Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang elektabilitasnya terus meroket jauh di atas Puan. Mustahil apa yang dilakukan Pacul dan Simbolon, kini disusul Masinton, tanpa restu Megawati.
Mungkin PDIP, yang banyak menyokong Jokowi di parlemen pun kecewa dengan Jokowi yang lebih sering mengakomodasi kepentingan Luhut Pandjaitan dan AM Hendropriyono, dua orang yang sangat berpengaruh terhadap Jokowi selain Megawati. Maka ketika kapal Jokowi oleng, lagi-lagi PDIP pun sibuk mencari sekoci. Ketika nanti Jokowi benar-benar karam, PDIP masih bisa bertahan dan menyelamatkan diri.
Benarkah demikian? Belum tentu. Sebab antara Jokowi dan PDIP sudah terbangun citra sedemikian rupa, ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Kalau Jokowi terpuruk, PDIP pun akan terpuruk. Demikian pula sebaliknya.
Sebab itu, serangan-serangan Effendi Simbolon dan Masinton Pasaribu kepada Jokowi tak akan banyak berpengaruh apalagi menolong PDIP. Salah-salah menjadi bumerang. Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.
Di sisi lain, Jokowi mau karam atau tetap populer, siklus politik 5 atau 10 tahunan pasti akan terjadi. Capres yang elektabilitasnya akan tinggi pada 2024 adalah yang tipikalnya antitesis dari Jokowi. Siapa pun dia. Ganjar, meski saat ini elektabilitasnya tinggi, pada Pilpres 2024 jika dicalonkan belum tentu terpilih karena tipikalnya tidak jauh berbeda dengan Jokowi. Apalagi Puan.
Alhasil, jangan sampai Effendi Simbolon dan Masinton Pasaribu menggali kuburan bagi PDIP sendiri. Yang sekarang mesti dilakukan PDIP adalah justru bagaimana menyelamatkan pemerintahan Jokowi supaya sama-sama selamat pada 2024. Menyerang Jokowi justru akan “sampyuh”, tiji-tibeh, mati siji mati kabeh (mati satu mati semua).
Karyudi Sutajah Putra, pegiat media, tinggal di Jakarta.
