Jakarta, hariandialog.co.id.- Lembaga pemeringkat internasional,
Moody’s mengoreksi outlook lima bank Indonesia, yang sebelumnya di
level stabil menjadi negatif, dengan peringkat kredit tetap sama pada
awal Februari 2026.
Prediktabilitas kebijakan yang berkorelasi dengan tata kelola
pemerintahan baik secara moneter dan fiskal mempengaruhi penilaian
Moody’s.
Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings itu
menyebutkan mengubah outlook atau prospek lima bank di Indonesia pada
Jumat, 6 Februari 2026 menjadi negatif dari stabil.
Langkah Moody’s ini dilakukan setelah mempertahankan
peringkat Indonesia di Baa2 (investment grade) dan mengubah prospek
atau outlook menjadi negatif dari stabil pada 5 Februari 2026. Lima
bank itu antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tbk, , PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT
Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Masuk dalam lima bank yang disorot Moody’s, Bank BTN meyakini
kredibilitas kebijakan perbankan dalam jalur semestinya.
Corporate Secretary BTN , Ramon Armando menitikberatkan bahwa
penurunan outlook oleh Moody’s untuk lima bank besar di Indonesia
tersebut karena didorong oleh penurunan outlook kredit sovereign
(Indonesia) dari stabil menjadi negatif.
“Kendati outlook BTN diturunkan, BTN tetap memiliki credit
rating di level investment grade dengan fundamental keuangan yang
tetap terjaga, baik dari sisi permodalan, likuiditas, maupun kualitas
aset,” kata Ramon dalam keterangannya, dikutip Minggu (8/2/2026).
Ramon mengatakan, bahwa BTN bakal terus memastikan bahwa
penyaluran kredit dilakukan secara selektif, ditopang oleh pengelolaan
risiko yang prudent serta menjaga kepercayaan pasar dan investor di
tengah dinamika ekonomi yang ada.
“BTN berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas kredit
dengan menerapkan manajemen risiko yang ketat serta peningkatan di
sisi proses bisnis yang lebih cermat, terukur, dan disiplin,”
ungkapnya.
Selain itu, Ramon juga menekankan BTN mengapresiasi langkah
pemerintah dan regulator dalam memberikan dukungan kepada industri
perbankan nasional melalui stimulus fiskal dan moneter. “(Ini) untuk
membantu perbankan dalam mengoptimalisasi fungsi intermediasinya dalam
rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan sehat ke
depannya,” tukasnya.
Adapun berdasar penilaian Moody’s, BTN menghadapi tantangan
struktural, seperti soal tingginya porsi restrukturisasi kredit dan
rendahnya tingkat likuiditas. “Peringkat simpanan Baa2 BTN
mencerminkan probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi,
mengingat peran sistemik BTN dan kepemilikan mayoritas pemerintah,”
tulis Moody’s, tulis sindonews. (diah).
