Jakarta, hariandialog.co.id.- Berulang kali dibacara kiriman
WtatshApp (WA) dari seorang teman dan tidak percaya. Namun, tiba-tiba
muncul lagi di WA teman lainnya dan terus membacanya berulang kali
tentang seorang siswa SD Kelas IV harus mengakhiri hidupnya dan
menyelesaikan waktu belajarnya dengan cara pintas.
Tak percaya denga nisi WA tersebut, sore hari kemarin,
3-02-2026, Kembali membuka beberapa online atau website teman-teman
media dan benar apa yang dikirimkan teman itu, tentang seorang siswa
SD Negeri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur,
meng-akhiri hidup dan kehidupannnya di dunia dengan cara yang tidak
sewajarnya. Sedih dan memilukan
Dan terungkap penyebab siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di
Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakhiri
hidupnya hanya karena dipicu saat korban diduga kecewa karena tidak
dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah, oleh Ibunya.
Bukan si Ibu atau orang tuanya yang pelit tidak mau memberikan, TAPI
keadaan ekonomilah tidak dituruti permintaan anaknya itu.
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam
sebelum kejadian, korban berinisial YBR minta uang kepada ibunya untuk
beli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi
ibunya karena kondisi ekonominya yang sulit.
Dion menjelaskan YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya.
Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum
kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.
“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku
tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ungkap Dion Roa dilansir
detikBali, Selasa, 3-02-2026.
Kondisi ekonomi sang ibu korban disebut memang sulit. Ia harus
menanggung kebutuhan lima orang anak. Sementara ayah korban sudah
berpisah sejak sekitar 10 tahun lalu. “Hidupnya (ibu korban) susah,”
ujar Dion.
Diketahui, YBR ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkih
di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1).
Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR.
Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R
Pissort, membenarkan surat itu ditulis korban. “Surat itu betul,
petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis,” kata
Benediktus melalui sambungan telepon, Selasa, 3-02-2026
Kita hanya dapat berdoa agar sang alm ditenang di dunianya dan Ibu
atau keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Sedih dan pilu.
Dan kejadian ini adalah, potret kehidupan di daerah. Menjadi
pertanyaan Dimana kepala daerahnya selama ini baik dari Kepala Desa,
Camat, Bupati maupun Gubernur yang tidak mengetahui kondisi warganya,
sumber wa-dtcbali. (halim-01) .
