Medan, hariandialog.co.id.- KEPOLISIAN masih menyelidiki kasus
pengiriman bangkai kepala anjing ke rumah orang tua pegiat media
sosial Palti Hutabarat. Keluarga meminta polisi mengusut kasus ini
hingga tuntas. “Keluarga meminta polisi mengusut tuntas serta
menemukan pelaku dan dalang di balik teror ini,” kata anggota Badan
Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (BBHAR PDIP), Wiradarma Harefa, dalam keterangan tertulis,
Senin, 23 Maret 2026.
Orang tak dikenal melemparkan bangkai kepala anjing ke
halaman rumah orang tua kader PDIP tersebut di Kecamatan Namo Rambe,
Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Keluarga mengetahui kejadian
itu pada Rabu pagi, 18 Maret 2026. Palti menerima kabar tersebut
melalui foto dan video yang dikirim kakaknya lewat pesan WhatsApp.
Namun, Palti belum memperoleh petunjuk mengenai pelaku
karena tidak ada kamera pengawas di sekitar rumah. CCTV di pos
keamanan juga dalam kondisi rusak.
Pada Selasa malam, 17 Maret 2026, kakak Palti sempat
mendengar suara benda jatuh di depan rumah, tetapi keluarga baru
memeriksanya keesokan hari. “Itulah kepala anjing yang fotonya dikirim
kakak saya di grup WhatsApp keluarga,” kata Palti saat dihubungi pada
Kamis, 19 Maret 2026.
Seorang saksi berinisial MH yang berada di lokasi saat
kejadian melaporkan peristiwa tersebut ke polisi dalam bentuk aduan
masyarakat pada Jumat, 20 Maret 2026, atau dua hari setelah kejadian.
Polsek Namorambe, Deli Serdang, menerima laporan tersebut
dan menaikkannya ke tahap penyelidikan. Kepolisian juga meningkatkan
pengamanan di rumah orang tua Palti melalui patroli personel
Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
(Bhabinkamtibmas), terutama pada malam hari.
Palti menilai pengiriman bangkai kepala anjing ini merupakan
upaya menerornya karena selama ini ia kerap mengkritik kebijakan
pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui media sosial. Ia
menduga teror tersebut bertujuan membuatnya berhenti menyampaikan
kritik.
Pengiriman bangkai kepala anjing ini bukan teror pertama yang
ia terima. Sebelumnya, ia juga menerima ancaman melalui pesan WhatsApp
serta teror dengan modus paket cash on delivery (COD) sepanjang Maret
2026, tulis tempo. (alfi-01)
