Jakarta, hariandialog.co.id.— Menteri Investasi dan
Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mencatat realisasi
investasi Indonesia mencapai Rp3.923,2 triliun selama dua tahun
pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Investasi tersebut dihitung sejak kuartal IV 2024 hingga
kuartal III 2026 dan menyerap sekitar 5,48 juta tenaga kerja.
Rosan mengatakan capaian itu mencakup investasi sepanjang
kuartal IV 2024, tahun penuh 2025, serta Januari-September 2026.
Dari total tersebut, investasi di luar Pulau Jawa mencapai
Rp2.031 triliun atau 51,8 persen, lebih besar dibandingkan Jawa yang
sebesar Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen. “Jumlah investasi yang
masuk total Rp3.923,2 triliun. Dan penyerapan tenaga kerjanya adalah
5.485.944 orang,” ujar Rosan dalam keterangan pers di Istana Merdeka,
Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Dari sisi sumber modal, penanaman modal dalam negeri (PMDN)
menyumbang Rp1.998,7 triliun atau 50,9 persen. Sementara itu,
penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp1.924,5 triliun atau 49,1
persen.
Secara khusus, realisasi investasi sepanjang
Januari-September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4 persen
dari target. Nilai tersebut mencakup realisasi investasi kuartal III
2026 sebesar Rp528,7 triliun dan menyerap 2.194.496 tenaga kerja.
Pada periode Januari-September 2026, investasi dalam negeri
tercatat Rp761,4 triliun atau 49,5 persen, sedangkan investasi asing
mencapai Rp777,8 triliun atau 50,5 persen.
Investasi di luar Jawa juga lebih besar, yakni Rp779,4
triliun atau 50,6 persen, dibandingkan Jawa sebesar Rp759,8 triliun
atau 49,4 persen.
Rosan mengatakan hilirisasi menjadi salah satu penopang
investasi. Sepanjang Januari-September 2026, investasi hilirisasi
mencapai Rp480 triliun atau 31,2 persen dari total realisasi
investasi, meningkat 11,3 persen.
Investasi hilirisasi terbesar berasal dari sektor mineral,
termasuk nikel, bauksit, tembaga, dan pasir silika, dengan nilai
Rp335,1 triliun.
Berikutnya, sektor perkebunan dan kehutanan mencapai Rp83,6
triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, serta perikanan dan
kelautan Rp7,3 triliun.
Sebagian besar investasi hilirisasi masuk ke luar Pulau Jawa,
yakni Rp373,1 triliun atau 78 persen. Sementara itu, investasi
hilirisasi di Jawa mencapai Rp106,9 triliun atau 22 persen, tulis
cnni. (bian-01)
