
Yogyakarta, hariandialog.co.id – Ditengah persaingan industri makanan ringan dan kenaikan harga bahan baku, camilan tradisional ‘Arumanis Haji Ardi’ masih tetap bertahan dan masih memiliki tempat di hati masyarakat. Arummanis Haji Ardi mampu mempertahankan sekaligus mengembangkan usaha arumanis tempo dulu yang kini menyerap puluhan tenaga kerja lokal.
Perjalanan usaha H Ardi Sahami (52) pemilik dari usaha ‘Arummanis Haji Ardi’ menjadi gambaran bahwa produk tradisional memiliki peluang untuk terus berkembang apabila dikelola dengan konsisten, didukung strategi pemasaran yang tepat, dan mampu menjaga kualitas.
H Ardi mengawali perjalanan bisnisnya sebagai tenaga penjualan atau sales camilan arumanis di Yogyakarta. Berbekal pengalaman tersebut, ia mempelajari karakter konsumen, mengenali peluang pasar, serta membandingkan berbagai produk sebelum akhirnya membangun usaha sendiri.
Usaha Arumanis Haji Ardi mulai dirintis pada 2011. Dari awalnya hanya melibatkan empat pekerja, bisnis tersebut kini berkembang dengan menyerap puluhan tenaga kerja.
Lulusan Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menjelaskan bahwa keberhasilan usaha tidak datang secara instan. Pelaku UMKM perlu tekun menjalankan usaha, memahami pasar, dan tidak mudah tergiur keuntungan besar dalam waktu singkat.
Menurutnya bisnis itu tidak ada yang tanpa ikhtiar atau datang begitu saja. Harus ditekuni dan jangan mudah tergiur dengan sesuatu yang terlihat menggiurkan di awal, karena belum tentu menjanjikan,” ujar H. Ardi saat kunjungan Media Gathering LPDB-KUMKM di rumah produksinya di wilayah Ngrangsang, Selomartani, Kecamatan Kalasasn Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa(13/10/2026).
Diungkapkanya salah satu tantangan yang dihadapi pelaku usaha makanan adalah kenaikan harga bahan baku. Untuk mengatasi kondisi tersebut, H Ardi memilih mempertahankan kualitas bahan yang digunakan agar cita rasa produknya tetap konsisten. Menurutnya, penyesuaian harga maupun ukuran kemasan dapat menjadi pilihan untuk menjaga keberlangsungan usaha tanpa harus mengorbankan kualitas produk.
“Kami tidak pernah mengubah bahan baku. Jika ada kenaikan harga bahan, opsi kami adalah menyesuaikan harga atau menata volume secara bijak,” ungkap pria asal Flores NTT ini.
H Ardi menambahkan dengan tetap mempertahankan kualitas produksi dan menjaga harga pasar produk ‘Arummanis Hadi Ardi’ yang dirintisnya itu hingga kini tetap eksis. Kini dengan 30 tenaga kerja yang membantu di rumah produksi serta 8 tenaga pemasaran yang dimilki, pihaknya ingin terus mengmabngakn usahanya, dengan memperluas daerah pemasaran ke seluruh Indonesia, hingga mampu menembus ekspor
Perkembangan dan peninkatan usaha ‘Arummanis Haji Ardi’ juga tak lepas dari dukungan permodalan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, melalui Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT Bina Ihsanul Fikri (BMT BIF) yang telah dijalani selama ini.
H Ardi berterima kasih atas dukungan permodalan dariLPDB Koperasi, dan pihaknya berharap agar dapat memperoleh akses pembiayaan kembali dengan nominal yang lebih besar dari LPDB Koperasi.
Menuturnya tambahan permodalan ini direncanakan untuk membiayai peningkatan kapasitas produksi serta perluasan jangkauan pemasaran ke berbagai daerah hingga menembus pasar ekspor ke depannya. (zal)
