Jakarta, hariandialog.co.id.- — Bank Indonesia (BI) membuka peluang
untuk kembali melakukan penukaran utang atau debt switching dengan
pemerintah pada tahun anggaran 2026, sebagai salah satu instrumen
ekspansi likuiditas dalam kerangka bauran kebijakan moneter tahun ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa bank sentral
tengah menyusun program moneter 2026 secara komprehensif, termasuk
mengalkulasi kebutuhan ekspansi likuiditas yang diperlukan pasar.
Dalam skema tersebut, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar
sekunder tetap menjadi menu utama, bersanding dengan penerbitan
instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Perry mengungkapkan bahwa mekanisme pembelian SBN tersebut
tidak menutup kemungkinan menyertakan skema debt switching,
melanjutkan praktik sinergi yang telah terjalin dengan Kementerian
Keuangan. “Dalam pembelian SBN itu bisa termasuk melalui debt
switching,” jelasnya dalam konferensi pers KSSK di Kantor Kemenkeu,
Jakarta, Selasa, 27-01-2026.
Adapun, debt switching adalah mekanisme pembelian surat
utang lama yang telah jatuh tempo dengan kompensasi surat utang baru
dengan tenor yang jauh lebih lama. Perry menekankan bahwa langkah
intervensi ini akan tetap konsisten dengan arah kebijakan moneter bank
sentral yang pro-pertumbuhan. Dia mengaku telah menjalin komunikasi
awal dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menyelaraskan
strategi ini.
Kendati demikian, Perry belum memerinci besaran volume SBN
yang akan diserap maupun target debt switching tahun ini. Dia meminta
setiap pihak bersabar terkait detail teknis kebijakan tersebut.
“Mengenai persisnya, tentu saja Pak Menteri [Purbaya] dan kami nanti
akan mengumumkan lebih lanjut setelah adanya high level meeting
[pertemuan tingkat tinggi antara otoritas fiskal dan moneter],”
tutupnya, tulis bisnis. (pitta-01)
