Jakarta, hariandialog.co.id.- KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK)
mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk hadir dalam acara Hari
Antikorupsi Sedunia (Hakordia) di Yogyakarta. Agenda Hakordia akan
berlangsung pada 6–9 Desember 2025. “Semoga beliau bisa hadir. Ya,
semoga rencananya seperti itu,” kata Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki
Widodo saat ditemui di Gedung C1 KPK, Jakarta Selatan, pada Senin, 24
November 2025.
KPK mengajak semua pihak bersinergi mewujudkan Indonesia
yang maju, adil, dan berintegritas, Tema Hakordia di 2025 “Satukan
Aksi, Basmi Korupsi”
Ibnu mengatakan KPK masih mempertimbangkan penampilan barang
rampasan dalam acara Hakordia. Ia menjelaskan pertimbangan tersebut
memerlukan koordinasi dengan Direktur Pelacakan Aset, Pengelolaan
Barang Bukti, dan Eksekusi (Labuksi) KPK untuk memastikan barang
rampasan yang dipamerkan sudah berkekuatan hukum tetap atau inkrah.
“Nanti kami tanyakan ke Pak Mungki Hadipratikto. Insya Allah akan kami
adakan sebaik mungkin. Kalau memungkinkan, kami akan upayakan,”
ujarnya.
Sebelumnya, KPK berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta untuk penyelenggaraan Hakordia. Koordinasi
tersebut bertujuan menetapkan Kota Pendidikan sebagai tuan rumah Hari
Antikorupsi Sedunia.
Ketua KPK Setyo Budiyanto mengatakan bahwa KPK telah
melakukan audiensi dengan Gubernur DIY untuk mempersiapkan pelaksanaan
Hakordia. Setyo menjelaskan bahwa pertemuan antara KPK dan Sri Sultan
Hamengkubuwono X salah satunya membahas penyelenggaraan Hakordia
dengan melibatkan masyarakat. “Pemberantasan korupsi bukan semata
tugas penegak hukum, melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa.
KPK mengajak semua pihak bersinergi mewujudkan Indonesia yang maju,
adil, dan berintegritas,” ujar Setyo dalam siaran pers KPK pada Senin.
Setyo mengatakan bahwa Yogyakarta terpilih karena memiliki
nilai budaya yang selaras dengan semangat pemberantasan korupsi.
Menurut dia, Yogyakarta merupakan daerah dengan tata kelola
pemerintahan yang baik. “Kami berharap momentum ini memperkuat
integritas melalui ruang-ruang budaya dan pendidikan yang hidup di
masyarakat Yogyakarta,” katanya, tulis tempo. (Farhan-01)
