Jakarta, hariandialog.co.id.- – Peneliti Center of Macroeconomics and
Finance Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap
Pulungan menilai, daya beli masyarakat masih tertekan meskipun
pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan.
Salah satu indikasinya adalah menyusutnya rata-rata saldo
tabungan masyarakat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. “Dengan demikian dapat dikatakan pertumbuhan ini belum
mampu memberikan kekuatan atau belum mampu menjamin tersedianya bahan
makanan yang terjangkau,” kata Abdul dalam diskusi publik Indef di
Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Abdul menjelaskan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, termasuk
pada kuartal I-2026, belum sepenuhnya diikuti oleh kemampuan
masyarakat untuk menjangkau kebutuhan pokok.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat masyarakat harus
mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pokok. Tekanan
daya beli juga terlihat dari perbandingan antara pertumbuhan upah dan
inflasi pangan.
Abdul menyebut, pertumbuhan upah pada 2026 cenderung datar,
yakni sekitar 1,7 persen. Sementara itu, inflasi pangan bergejolak
tercatat lebih dari 5 persen.
Abdul mengatakan, tekanan terhadap daya beli turut tecermin
dari penurunan rata-rata saldo rekening masyarakat dengan simpanan di
bawah Rp 100 juta. Ia memaparkan, rata-rata saldo rekening kelompok
tersebut sempat mencapai Rp 2,27 juta pada masa pandemi.
Namun, jumlahnya kini turun menjadi Rp 1,66 juta. “Artinya
kita makan tabungan, menguras tabungan kita untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, untuk bahan-bahan makanan,” kata Abdul.
Menurut dia, kondisi itu menunjukkan masyarakat semakin
mengandalkan tabungan untuk menutup kebutuhan hidup, terutama untuk
membeli bahan pangan. Abdul juga menyoroti besarnya porsi pendapatan
masyarakat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan. Ia
menyebut, sekitar 33 persen pendapatan masyarakat masih dialokasikan
untuk kebutuhan tersebut, tulis kompas. (put-01)
