
Tapteng, hariandialog.co.id – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengoptimalkan Klinik UMKM Bangkit Sumatera Utara I di Kabupaten Tapanuli Tengah untuk mempercepat pemulihan usaha terdampak bencana. Program ini menjangkau 11 kabupaten/kota melalui pendampingan produksi, pembiayaan, pemasaran, dan pendataan.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman mengatakan, Klinik UMKM Bangkit berfokus pada pengusaha UMKM yang masih memiliki usaha untuk dipulihkan. Pendampingan diberikan sesuai kebutuhan agar usaha kembali produktif dan berkelanjutan.
“Klinik UMKM Bangkit hadir sebagai pusat layanan terpadu yang menghubungkan kebutuhan UMKM dengan berbagai sumber dukungan, baik pembiayaan, penguatan produksi maupun akses pasar. Jadi, intervensi yang kita berikan tidak hanya memulihkan usaha, tetapi juga mendorong UMKM kembali tumbuh dan semakin resilien,” ujar Bagus dalam kegiatan Optimalisasi Klinik UMKM Bangkit Sumatera Utara I di Kabupaten Tapanuli Tengah, Kamis (8-10-2026).
Layanan klinik mencakup pendampingan produksi, pembiayaan, pemasaran, serta pendataan pengusaha UMKM terdampak. Data tersebut juga menjadi dasar untuk mendukung penyaluran Bantuan Presiden (Banpres) dan program pemberdayaan lainnya secara tepat sasaran.
Setiap klinik diperkuat tiga pendamping di bidang produksi, pemasaran, dan pembiayaan, serta satu pendamping data. Pelaksanaannya didukung Satgas yang melibatkan Dinas Koperasi dan UKM di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota terdampak.
Sebelumnya, Kementerian UMKM telah melaksanakan tanggap darurat di Sumatera Utara pada 18–19 Februari 2026, meliputi Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga. Bantuan yang disalurkan antara lain 15 bal benang songket, 140 paket kompor dan gas, 100 paket sembako, serta satu unit tenda lipat.
Pemulihan usaha juga dilakukan melalui program Landing Page untuk memperluas akses pasar digital. Pengusaha mikro didampingi melakukan onboarding ke platform e-commerce, memanfaatkan toko digital UMKM Bangkit, serta meningkatkan kemampuan pemasaran agar dapat menjangkau konsumen lebih luas.
Sementara itu, pengusaha menengah difasilitasi untuk menjalin kemitraan dengan ritel modern, pusat oleh-oleh, dan perhotelan di Sumatera Utara. Upaya ini diperkuat melalui kurasi produk, pendampingan pemenuhan standar, serta business matching untuk membuka peluang transaksi dan memperluas rantai pasok. “UMKM kita tidak cukup hanya kembali berproduksi. Kita ingin mereka kembali terhubung dengan pasar dan rantai pasok. Karena itu, pendampingan harus mampu membawa UMKM memenuhi standar dan kebutuhan industri sehingga keberlanjutan usahanya dapat terjaga,” kata Bagus.
Bagus menegaskan, pemulihan UMKM membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, lembaga pembiayaan, BUMN dan BUMD, dunia usaha, perguruan tinggi, serta asosiasi. Koordinasi dan pendataan yang akurat diperlukan agar bantuan tepat sasaran dan tidak terjadi duplikasi program.
Melalui optimalisasi Klinik UMKM Bangkit, Kementerian UMKM mendorong pemulihan usaha secara menyeluruh, mulai dari mengaktifkan kembali produksi dan memulihkan arus kas hingga membuka akses pembiayaan serta memperluas pasar. Upaya ini diharapkan membantu UMKM bangkit dari dampak bencana sekaligus menjaga pendapatan keluarga dan kesempatan kerja. “Semangat kita adalah UMKM Bangkit, UMKM Kuat, dan UMKM Naik Kelas. Klinik ini harus menjadi titik temu berbagai dukungan agar UMKM Tapanuli Tengah bukan hanya pulih, tetapi mampu tumbuh lebih kuat dan berdaya saing,” tandas Bagus. (zal)
