Jakarta, hariandialog.co.id.- Para pedagang mengeluarkan sumpah
serapah terhadap pemerintah atas naiknya harga pelastik pembungkus
yang cukup tidak masuk diakal. “Kami terus terang menyalahkan
pemerintah. Kok bisa plastic pembungkus Ganti harga. Bukan naik lagi
ini Pak,” kata pedagang makanan kecil di pasar Pasar Minggu, Jakarta
Selatan
Pedagang makanan kecil di pagi hari ini yang mengaku
bernama Pininten, asal Jawa Tengah, berteriak dengan harga plastic
merek donat yang biasa satu kantong Rp.10 ribu, saat habis di pagi
hari buta dibeli dengan harga Rp.20 ribu. “Jadi ini benar-benar Ganti
harga bukan naik lagi. Kalau naik seribu atau dua ribu rupiah tapi ini
tidak,” keluh Pininten.
Ungkapan yang sama juga datang dari pedagang sayur mayur.
“Kita tetap membutuhkan plastic pembungkus. Konsumen beli cabe, beli
tomat, beli sayut buncis, bawang dan lain-lain, kan harus mengunakan
plastic. Dan plastic bagian dari kebutuhan para pedagang apapun itu.
Artinya harus. Kalau begini Ganti harga yah terus terang menyusahkan
kita para pedagang,” ungkap sang pria sepatuh baya mengaku Bernama
Satrio asal Blora, Jawa Tengah.
Pedagang ayam dan dagingpun di Pasar Pasar Minggu,
kemarin, 29 Maret 2026, mengeluh dan tidak tahu harus bagaimana lagi.
“Kan tidak mungkin gara-gara plastic pembungkus naik kita harus
menaikkan harga dagangan kita. Sudah pembeli sepi, ada satu dua dan
harus menggunakan plastic saat ada yang beli. Jadi kenaikan harga
plastic pembungkus saat ini mengerikan. Tidak masuk diakal tapi itulah
kenyataan,” kata Abah pedagang daging asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat
itu.
Pedagang bakso di Jalan Pejaten Raya, Pasar Minggu, juga
mengeluhkan tingginya kenaikan harga plastic yang mencapai dua kali
harga semula. “Saya biasa beli plastik di agen harganya Rp.15 ribu, eh
tadi pagi beli palstik baru karena stok tinggal sedikit sudah dihargai
Rp.25 ribu. Jadi benar-benar tidak ada perlindungan kepada warganya
pemerintah sekarang ini. Gila kan, dari Rp.15 ribu sekarang Rp.25
ribu. Jadi saya sepakat bukan naik harga plastic tapi ganti harga,”
jelas Yono asal Wonogiri, Jawa Tengah.
Para penjual plastic keliling dan sekalian tukang angkat
barang bawaan warga yang belanja juga mengeluhkan kenaikan harga
plastic. “Kita bisanya beli plastic satu bungkus isi 20 harganya Rp.21
ribu dan kita jual ecer kepada para warga yang tidak bawa tas besar
dan menggunakan plastic kita per lembar kita jual Rp.2 ribu rupiah.
Meman gada yang ngasih lebih hingga satu lembarnya Rp.5 ribu. Sekarang
harga plastic itu sudah Rp.35 ribu. Jadi terpaksa kita jual per
satuannya Rp.3 ribu. Benar-benar terkejut mendengar harga baru,”
terang Anton, warga Citayem, Bogor, yang mengaku jual plastic sudah 10
tahun lalu di Pasar Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Redaksi mencoba konfirmasi ke agen penjual plastic di
pasar Pasar Minggu dan juga agen di Jalan Salihara, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan, bahwa mereka juga sudah menerima kenaikan harga dari
pabrik. “Pabrik menyebutkan kenaikan harga sudah tidak bisa ditahan
dan ditekan. Jadi pihak pabrikan terpaksa karena harga beli bahan baku
plastic dari luar. Jadi kanikan harga plastic ini ada dan jelas
terkait dampak dari perang Timur Tengah,” kata agen di pasar Pasa
Minggu.
Sementara pemerintah melalui Kementerian Perindustrian,
Perdagangan tidak bisa berbuat akan mahalnya bahan baku untuk
pembuatan plastic. “Kita ikut saja bisanya. Naik harga pembelian kita
dari pabrik yah terpaksa kita juga naik juga. Nanti kalau turun lagi
harga dari pabrik yang kita turunkan lagi harganya,” sebut salah
seorang kanvasser plastic untuk agar Jalan Salihara. (tob)
