
Bandung Barat, hariandialog.co.id – Kasus raibnya dana saldo sebesar 1 Miliar Rupiah milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban yang beralamat di Kp. Cibodas RT. 001 / RW. 008 Desa Pangauban Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), memicu kehebohan di lingkungan pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hendrik Irawan, salah satu mitra SPPG Pangauban Batujajar mengungkapkan bahwa peristiwa ini bermula dari kecerobohan Kepala SPPG yakni Mochamad Cakra Aji Saputra yang berkomunikasi dengan pelaku melalui nomor WhatsApp palsu yang mengklaim berasal dari Bank BNI. Pasalnya, dana untuk belanja program MBG tersebut diduga lenyap akibat penipuan online (Phishing) yang mengatasnamakan pihak perbankan dari bank BNI.
“Kami sudah berulang kali mengingatkan kepala SPPG agar tidak menanggapi pesan dari pihak yang mengaku BNI. Tapi beliau bersikeras percaya, bahkan menolak nasihat kami,” ujar Hendrik pada Rabu, 5 November 2025.
Menurut Hendrik, komunikasi antara Mochamad Cakra Aji Saputra dan pelaku bermula ketika SPPG hendak melakukan transaksi saldo untuk keperluan belanja dan pembayaran mitra. Namun, kepala SPPG yang tengah berada di rumah, mencoba mencari nomor layanan BNI melalui internet dan tanpa sadar terhubung dengan akun penipu yang menggunakan identitas palsu bank.

“Pelaku itu kemudian mengarahkan agar dilakukan pengalihan dana, dan Kepala SPPG menuruti instruksi itu. Kami sudah curiga dan menegaskan jangan dilanjutkan, tapi dia bersikeras itu resmi dari BNI,” jelasnya.
Bahkan, lanjut Hendrik, ahli gizi dan akuntan SPPG turut menegur agar kepala SPPG untuk berhenti berkomunikasi. Namun, teguran dari rekan-rekan kerja tersebut justru ditanggapi dengan emosi.
“Ahli gizi sempat menyarankan cek nomor pelaku lewat aplikasi GetContact, tapi kepala SPPG malah marah dan bilang, ‘Diam lu, ini urusan saya. Saya yang tanggung jawab!’” kata Hendrik menirukan ucapan kepala SPPG Mochamad Cakra.
Sebelum kejadian, Hendrik menyampaikan, bahwa Kapolsek Batujajar AKP Asep juga telah memberi peringatan agar waspada terhadap modus penipuan online yang sedang marak. Tetapi, peringatan itu kembali diabaikan.
“Pagi harinya, sekitar pukul 06.30 WIB, kepala SPPG datang dengan wajah panik dan mengaku saldo Rp1 miliar telah hilang,”ucap Hendrik kembali menirukan ucapan Mochamad Cakra.
Akibat saldo dana MBG 1 Miliar Rupiah hilang, Hendrik yang hendak melakukan belanja rutin sontak kaget dan langsung melapor ke Polres Cimahi.
“Kami langsung bikin laporan polisi agar kejadian ini tidak disalahartikan. Namun sempat ada ketegangan dengan keluarga kepala SPPG saat proses pelaporan,” ucapnya.
Setelah laporan dibuat, kasus ini juga disampaikan dalam rapat bersama Badan Gizi Nasional (BGN) yang dihadiri oleh pejabat pusat, termasuk kepala BGN Dadan Hindayana dan wakil kepala BGN Sony Sanjaya.
Menurut Hendrik, pihak BGN meminta klarifikasi langsung ke Jakarta. Namun proses pemeriksaan sempat terganggu karena intervensi dari keluarga dari kepala SPPG yang disebut berprofesi sebagai anggota Polisi Militer (PM).
“Saya diintervensi dan dicegah naik ke lantai 7 tempat pemeriksaan. Padahal saya hanya diminta BGN memberi keterangan sebenarnya,” ungkap Hendrik.
Sesuai arahan BGN, kata Hendrik, kasus ini kemudian diteruskan ke Bareskrim Polri, Meski hingga kini belum ada tindak lanjut signifikan selain pelaporan awal.
Meski kecewa, Hendrik tetap berharap agar dapur SPPG Pangauban Batujajar di Bandung Barat dapat segera beroperasi kembali demi kelanjutan program MBG yang ia yakini sangat membantu masyarakat, terutama siswa sekolah dasar di wilayah Batujajar.
“Saya sudah 17 tahun berpengalaman di industri makanan. Anak-anak sampai sekarang masih tanya kapan program MBG kembali, karena sejak dapur tutup, uang jajan mereka jadi boros,” pungkasnya.
Dalam chattnya saat di hubungi wartawan hariandialog.co.id Budi Hermawan Wakasek kesiswaan SMPN 2 Batujajar beserta guru berbarap dengan ini mengajukan permohonan kepada BGN untuk segera menggulirkan kembali MBG di sekolah kami, mengingat banyak siswa yang membutuhkan program MBG tersebut. (NAGON)
