

Oleh Sultoni YN, S.Pd,M.Pd & Subekani
Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS. Al A’raf : 199).
Orang Islam baru saja meraih kemenangan yakni dengan datangnya hari raya Idul Fitri 1444 H kemarin, setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqoroh : 183).
Banyak sekali amalan-amalan yang bisa dikerjakan selama bulan puasa antara lain yaitu tadarus Al Quran, sholat tarawih, bersedekah, menyantuni anak yatim piatu dan sebagainya. Dan setelah puasa selesai memasuki Idul fitri (hari kemenangan) dan sering disebut sebagai lebaran. Adapun makna Idul Fitri adalah kembali bersih secara jiwa, raga, maka selalu diadakan kegiatan saling memaafkan.
Disamping sebagai wahana silaturahmi, Idul Fitri juga mengandung makna kembali kepada fitrah (kesucian), dimana arti secara luas adalah meliputi 3 pengertian, yaitu : 1. Fitrah berarti kembali kepada kepribadian manusia yang manusiawi; 2. Fitrah berarti kembali kepada jalan agama; 3. Fitrah dalam arti kembali ke asal kejadian manusia.
Selanjutnya Idul Fitri juga mempunyai nilai sosial dan kemanusiaan. Dimana sesungguhnya merupakan saat untuk memikirkan kembali hakikat manusia, yaitu bahwa manusia siapapun orangnya tak bisa hidup tanpa manusia yang lain. Maka berlakulah kepedulian sosial, dan solidaritas antar sesama, dan masih banyak lagi hikmah lainnya.
Selanjutnya setelah Hari Raya Idul Fitri lewat, budaya dan tradisi reuni dan halal bihalal sering menjadi agenda selanjutnya. Biasanya digelar + seminggu setelah Idul Fitri (hari kemenangan). Reuni sendiri dalam KBBI adalah pertemuan kembali (antar teman, sahabat, kawan seperjuangan dan sebagainya) dengan agenda (acara) tertentu.
Sedang halal bihalal mengandung pengertian saling maaf memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa bulan suci Ramadhan yang dikemas dalam bentuk semacam wahana silaturahmi, dan menjaga ukhuwah islamiyah, maka sangat dianjurkan agar mengerjakan halal bihalal secara sederhana dan lebih menyentuh pesan religinya dibanding hanya sekedar berhura-hura yang berpotensi menjadi haram penyelenggaraannya.
Halal bihalal bertujuan untuk memperbaiki dan mengharmonisasikan hubungan dengan meminta dan menerima maaf, maka halal bihalal sebagai momen penting untuk saling memaafkan baik secara individu maupun kelompok. Ada dampak positif dari halal bihalal yaitu sebagai momen tepat untuk saling memaafkan, menghapus dendam, rasa iri dan membangun rasa sling peduli.
Makna halal bihalal juga tersirat dalam hadist Rasulullah SAW yaitu “Siapa saja yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambungkanlah tali persaudaraan” (HR. Al Bukhori dan Muslim). Hadist yang lain yaitu “Tidak ada dua orang muslim yang bertemu kemudian bersalaman kecuali dosa kedunya diampuni oleh Allah SWT sebelum mereka berpisah” (HR. Tirmidzi).
Sedang makna halal bihalal dalam Al Quran yang menitikberatkan pada saling menjaga tali silaturahmi dan saling memaafkan disamping yang terurai diatas sendiri yaitu (QS. Al A’raf : 199). Selanjutnya ayat yang lain yaitu “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah SWT perintahkan supaya dihubungkan (yaitu mengadakan hubungan tali silaturahmi dan tali persaudaraan” (QS. Ar Ra’du : 21).
Sebagai anjuran dalam halal bihalal yakni bahwa Al Quran menuntut halal bihalal yang baik dan menyenangkan, jadi seluruh umat muslim dituntut untuk melaksanakan kegiatan halal bihalal dengan baik dan menyenangkan bagi semua orang, bahkan dalam Al Quran tidak hanya menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain saja tetapi juga berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan kepadanya, sehingga bisa menyambung tali silaturahmi yang putus.
Al hasil halal bihalal tidak hanya sekedar saling memaafkan saja, namun juga harus menciptakan kondisi persatuan, dan halal bihalal juga tidak hanya sekedar acara ritual keagamaan, tapi juga merupakan tradisi kemanusiaan.
Sehingga ktia dapat mengetahui dan memahami secara baik dan benar dalam melaksanakan tradisi lebaran yakni halal bihalal dengan harapan kegiatan-kegiatan seperti ini mendapat manfaat baik dalam menjaga tali silaturahmi dan ukhuwah islamiyah, Amin Ya Robbal ‘Alamiin.
