Lombok Tengah, hariandialog.co.id.- – Tak ada lagi deretan rumah adat yang selama ini menjadi wajah Dusun Adat Sade. Yang tersisa hanya tanah, arang, dan puing setelah api melahap 75 rumah adat di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, Sabtu malam (22/8/2026).
Bau arang masih tercium ketika langkah kaki memasuki kawasan yang sebelumnya ramai didatangi wisatawan. Di tempat itu, rumah-rumah beratap alang-alang dan berdinding anyaman bambu yang selama ini menjadi penanda kehidupan masyarakat Sasak kini rata dengan tanah.
Di balik rumah-rumah itu tersimpan jejak sejarah panjang masyarakat Sasak. Tradisi arsitektur dan pemukiman Dusun Adat Sade disebut telah berusia ratusan hingga ribuan tahun. Rumah-rumah tersebut menjadi bagian dari warisan leluhur yang selama ini dipertahankan secara turun-temurun.
Budayawan Lombok Tengah, Lalu Putria, menyebut Dusun Adat Sade sebagai benteng terakhir penjaga warisan leluhur suku Sasak. “Mungkin saya mulai dari sejarah Lombok. Kita di Lombok ini, kalau kita mulai dari bencangah yang masih ada, kita sebenarnya di Lombok ini satu tundun, satu trah (keturunan),” tutur Putria ditemui di rumahnya, Senin (24/8/2026).
Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 20.00 Wita Minggu (22/8/2026) menghanguskan 120 bangunan di Desa Adat Sade yang sebagian besar menggunakan material kayu, bambu, bedek serta beratap ilalang dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tulis dtc. (lili-01)
