Jakarta, hariandialog.co.id.- Jaksa Agung ST Burhanuddin sudah
menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkaitan dengan pemanggilan
untuk anggota III Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI)
Achsanul Qosasi. Keterangan Achsanul disebut penting berkaitan dengan
perkara dugaan korupsi pada proyek BTS 4G pada Bakti Kominfo.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum
Kejagung) Ketut Sumedana mengatakan izin dari Jokowi diperlukan untuk
meminta keterangan Achsanul. Hal itu sesuai dengan ketentuan pada
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK, tepatnya pada Pasal 24
yang menyebutkan, ‘Tindakan kepolisian terhadap anggota BPK guna
pemeriksaan suatu perkara dilakukan dengan perintah Jaksa Agung
setelah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan tertulis Presiden’.
“Ketentuan tersebut mewajibkan tim penyidik untuk mengikuti
prosedur hukum formil yang harus dipenuhi. Tim penyidik melalui Jaksa
Agung sudah mengirimkan surat ke Presiden, sehingga saat ini kita
menunggu persetujuan tersebut untuk memanggil saudara AQ (Achsanul
Qosasi) sebagai saksi,” kata Ketut kepada wartawan, Minggu
(29/10/2023).
“Saya yakin komitmen Presiden dan Jaksa Agung dalam hal
pemberantasan korupsi sama, ingin semua permasalahan yang berkembang
di persidangan dituntaskan, sebagaimana yang saya sampaikan sebelumnya
siapapun yang disebutkan terlibat akan kami klarifikasi sehingga tidak
menimbulkan polemik,” imbuh Ketut.
Lantas, sejauh mana dugaan keterlibatan Achsanul dalam
perkara ini? Ketut menjawab diplomatis. “Apakah nanti dapat
dikembangkan lagi? Kita tunggu hasil penyidikan. Penyidikan masih
terus berjalan,” ucap Ketut.
Sebelumnya, dalam persidangan perkara ini di Pengadilan
Tipikor Jakarta, Direktur Utama PT Mora Telematika Indonesia Galumbang
Menak Simanjuntak mengatakan nama Achsanul Qosasi (AQ), yang merupakan
anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, saat diperiksa sebagai
terdakwa kasus korupsi BTS. Saat itu, jaksa membacakan is I percakapan
Galumbang dengan Anang soal inisial AQ dari BPK.
“Ada percakapan bahwa ‘sepertinya om…’ om yang dimaksud Saudara
saksi, ini dari chat-nya Anang, ‘perlu menghadap AQ lagi sama saya’,
jawaban Saudara, ‘jangan sekarang lah, Bos, reda dulu. Ini tim BPK
ancam soal data yang nggak pernah dikasihkan’, apa maksud dari
percakapan itu?” tanya jaksa dalam persidangan di PN Tipikor Jakarta,
Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (23-10-2023) tulis dtc.
“Saya lupa,” jawab Galumbang.
“Saudara lupa ya, Saudara tahu yang dimaksud AQ itu siapa? menghadap
AQ?” tanya jaksa.
Baca juga:
Bangunan Tua di RSST Klaten Diusulkan Jadi Cagar Budaya, Ini Sejarahnya
“Ya, Pak Achsanul,” jawab Galumbang.
“Siapa?” tanya jaksa.
“Pak Achsanul,” jawab Galumbang.
“Achsanul siapa?” tanya jaksa.
“Qosasi,” jawab Galumbang.
“Itu siapa?” tanya jaksa.
“Ya AQ,” jawab Galumbang.
Jaksa lalu bertanya sosok Achsanul Qosasi. Galumbang mengatakan
Achsanul dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Ya siapa? Achsanul Qosasi itu siapa?” tanya jaksa.
“Anggota BPK, Pak Jaksa,” jawab Galumbang.
Untuk diketahui, berdasarkan situs BPK RI, Achsanul Qosasi merupakan
pejabat anggota III BPK RI. Jabatan tersebut memiliki salah satu tugas
dan wewenang yang berkaitan dengan audit Kominfo.
Kembali ke Galumbang. Galumbang mengakui mendapat informasi terkait
penyerahan uang Rp 40 miliar ke BPK dari tersangka kasus BTS Edward
Hutahaean. Namun dia tak menyebut siapa pihak dari BPK yang menerima
Rp 40 miliar itu.
“Ini kan pada saat kemudian untuk kepentingan Palapa Ring Saudara kemudian tadi buka AQ itu siapa. Ternyata di sini juga di BTS 4G dari
keterangannya Saudara Terdakwa Irwan, itu juga ada katanya ke BPK yang
dititipkan ke Sadikin. Apakah Saudara tahu bahwa ini juga ada
kaitannya dengan AQ?” tanya jaksa.
“Nggak tahu kalau itu,” jawab Galumbang.
“Saudara tidak pernah diceritai oleh Pak Anang?” tanya jaksa.
“Diceritain sama Pak Edward,” jawab Galumbang.
“Bagaimana ceritanya kemudian Pak Edward bercerita kepada Saudara
mengenai uang Rp 40 miliar?” tanya jaksa.
“Bukan uang Rp 40 miliar bahwa ada temuan juga mengenai proyek BTS,”
jawab Galumbang.
Galumbang mengaku tak percaya 100 persen cerita terkait Achsanul
Qosasi dan penyerahan Rp 40 miliar ke BPK yang disampaikan Edward.
Menurutnya, Edward bisa saja mencatut nama Achsanul.
“Nah, ini kan baru ada temuan, bisa dibereskan, tapi yang kemudian
menyangkut nama AQ ini bagaimana ceritanya?” tanya jaksa.
“Ya kita juga nggak tahu apa benar atau tidak, bisa aja pakai nama ya,
Pak,” jawab Galumbang.
“Maksud saya apakah kemudian Edward menyebutkan nama itu untuk
menghubungi atau gimana?” tanya jaksa tulis dtc.
“Pak Jaksa, saya tidak bisa memastikan itu apa yang disampaikan benar
atau tidak, misalnya ada orang menyebutkan nama bapak misalnya, benar
atau tidak kan belum tentu, itu perlu didalami kan begitu,” kata
Galumbang. (bing).
