
BANDUNG BARAT, hariandialog.co.id – Masih dalam khidmat suasana Idulfitri 1477 Hijriah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Azura Berkah Rezeki di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mendadak menjadi pusat perhatian insan kuliner tanah air pada Jumat (27/03/2026).
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 250 juru masak (chef) dari berbagai pelosok Nusantara hingga mancanegara berkumpul untuk melakukan presentasi dan uji coba menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah. Misi utamanya: membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukan penghalang untuk menghadirkan makanan berkualitas tinggi bagi anak sekolah.

Membongkar Mitos Anggaran Minim
Hendrik Irawan, mitra pengelola SPPG Batujajar, menegaskan bahwa forum ini adalah ajang pembuktian kreativitas dapur profesional. Dengan pagu anggaran sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi, para chef ditantang meracik hidangan yang tetap memenuhi standar gizi tanpa mengesampingkan cita rasa.
”Kami ingin menunjukkan bagaimana mengolah anggaran minim menjadi hidangan kelas hotel bintang lima. Ini bukan soal mencari profit, tapi soal memberikan gizi terbaik bagi masa depan anak-anak Indonesia,” ujar Hendrik tegas.
Momen Evaluasi dan Sinergi Lintas Wilayah
Kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi pihak pengelola. Hendrik secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas kendala operasional yang sempat menyebabkan dapur SPPG Pangauban berstatus suspended beberapa waktu lalu. Ia berkomitmen menjadikan kritik publik sebagai pelecut untuk berbenah demi menjaga kepercayaan masyarakat dan Presiden Prabowo Subianto.
Owner SPPG Pangauban, Lisda Lestari, menambahkan bahwa kolaborasi ini melibatkan ahli kuliner dari Aceh, Kalimantan Barat, Jawa Timur, hingga Makassar. Bahkan, Chef David asal Prancis turut hadir memberikan perspektif internasional.
- Aksi Nyata: Demo masak menggunakan wajan raksasa berdiameter dua meter.
- Berbagi: 200 porsi hasil olahan para chef langsung dibagikan kepada warga sekitar.
- Hasil: Menu Ayam Teriyaki mendapat pujian “Ngeunah Deui Wae” dari influencer kuliner, Mang Epul.
Dialog Chef vs Ahli Gizi: Mencari Keseimbangan
Diskusi hangat sempat mencuat mengenai dominasi peran di dapur. Chef Pasya dan Chef Kumink menekankan pentingnya kreativitas chef agar menu tidak membosankan. Menurut mereka, inovasi rasa adalah kunci agar anak-anak lahap menyantap makanan sehat.
Senada dengan hal itu, Wakil Ketua Panitia, Chef Dwi Purnomo, menyebut gerakan yang bermula dari komunitas TikTok ini rencananya akan dikukuhkan menjadi asosiasi formal. Tujuannya adalah menciptakan sinergi antara kreativitas chef dan panduan nutrisi ahli gizi.

Harapan Baru untuk Generasi Penerus
Menutup rangkaian acara, Kepala SPPG Pangauban, Ahmad Sopian, mengapresiasi edukasi dan resep profesional yang dibagikan oleh para pakar.
”Kehadiran para chef ini memberikan standar baru bagi kami. Menu Rp8.000 kini punya nilai rasa yang layak dan bergizi tinggi,” pungkas Ahmad sembari mengucapkan selamat Idulfitri, Minal Aidin Wal Faizin, kepada masyarakat yang hadir dalam acara halal bihalal tersebut.
(Nagon)
