
Denpasar-hariandialog.co.id -Bupati Adi Arnawa menyebutkan, TPS3R Panca Lestari Tanjung Benoa, ditemukan penerapan mesin incinerator Bahan Bakar Kayu (BBK ) mampu mengolah sampah hingga menghasilkan residu minimal, bahkan mendekati nol limbah. Teknologi ini tidak bergantung pada bahan bakar fosil, bebas emisi asap, dan ramah lingkungan, dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 ton sampah per jam.
“Jika sistem ini direplikasi ke seluruh desa, ketergantungan pada TPA Suwung dapat ditekan secara signifikan. TPS3R Panca Sari ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat, mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi, serta sektor Rumah Tangga, Hotel, Restoran, dan Villa, dengan mengelola 47 jenis sampah melalui Bank Sampah,” ujarnya, saat pemantauan intensif 3 (tiga) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Kabupaten Badung, yaitu TPS Pecatu, TPS Panca Lestari di Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan dan TPS Kedonganan Kecamatan Kuta, Rabu (26/2).
Pemantauan jadi acuan evaluasi efektivitas teknologi pengolahan sampah dan akselerasi penanganan serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam sistem ekonomi sirkular. Kunjungan i bagian dari strategi Bupati Adi Arnawa mempercepat implementasi sistem pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Badung.
. Bupati Adi Arnawa juga menyoroti Desa Tanjung Benoa sebagai contoh ideal mengintegrasikan teknologi pengolahan sampah dengan pemberdayaan masyarakat,“Desa Tanjung Benoa menunjukkan tidak hanya upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sampah yang inovatif, “ Saya ingin seluruh desa di Badung menjadikan ini sebagai Role Model,” ucapnya.
Tantangan kedepan, kata Adi Arnawa Sebaliknya berbeda muncul di TPS3R Pecatu dan TPS3R Kedonganan. Di TPS3R Pecatu,tercatat volume sampah masuk mencapai 30 ton per hari, namun kapasitas pengolahan hanya 5-7 ton per hari,“Akselerasi pengadaan incinerator akan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes),rencana ini tahap kajian. Sementara itu, hasil olahan sampah organik di lokasi berhasil diubah menjadi pupuk dipasarkan BUMDes, menunjukkan potensi ekonomi dari pengelolaan sampah.
“Ada ketimpangan signifikan antara sampah masuk dan keluar, ditambah residu belum tertangani optimal,” ungkapnya.Untuk TPS3R Kedonganan, kondisi lebih kompleks dengan volume sampah harian 10-12 ton, namun pemilahan dan pengolahan masih terhambat oleh minimnya partisipasi masyarakat karena keterbatasan dana,
“Residu tetap menjadi masalah, banyak sampah akhirnya dibuang ke TPA Suwung karena ketiadaan mesin incinerator.Untuk mengatasi hal ini saya berencana menyusun pola pengelolaan seragam seluruh TPS3R Badung, didukung regulasi berbasis adat seperti berhasil diterapkan beberapa desa. BUMD bisa berperan sebagai pembeli sampah plastik atau material daur ulang, sehingga desa tidak hanya mengolah sampah, juga memperoleh manfaat ekonomi,” jelas Adi Arnawa.
Rencana ini melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dalam rapat evaluasi untuk memastikan alokasi anggaran tepat sasaran,“Tidak ada gunanya menginvestasikan alat mahal jika tidak sesuai kebutuhan desa,” pungkasnya seraya akan menginisiasi lomba pengelolaan sampah antar Desa/Kelurahan dengan hadiah menarik guna memacu semangat masyarakat. ( NL )
