Kupang, hariandialog.co.id. — Total pelajar SMP Negeri 8 Kota Kupang,
Nusa Tenggara Timur yang diduga keracunan setelah menyantap makanan
bergizi gratis (MBG) sehari sebelumnya mencapai 200 orang.
Dari 200 siswa yang mengalami keracunan, 140 orang harus
mendapat penanganan medis di tiga rumah sakit, yakni Rumah Sakit Umum
(RSU) Mamami, RSU S.K. Lerik Kota Kupang, dan RSU Siloam.
Sedangkan sisanya langsung dipulangkan setelah mendapat
penanganan medis di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dengan bantuan tenaga
medis dari Dinas Kesehatan Kota Kupang. ” total ada 200an siswa, yang
ditangani rumah sakit itu sebanyak 140 orang sedangkan yang
ringan-ringan ditangani di sekolah,” kata Kepala SMP Negeri 8 Kota
Kupang, Maria Th. Roslin Lanja kepada wartawan di Kupang, Selasa. 22
Juli 2025.
Roslin mengungkapkan siswa yang dibawa ke rumah sakit karena
mengalami gejala berat, seperti sakit perut, pusing, dan mual bahkan
ada yang muntah-muntah.
Semua bermula ketika para siswa mulai menunjukkan gejala
keracunan pada Selasa (22/7) pagi dimulai sekitar pukul 07.30 wita
saat dimulainya proses belajar mengajar.
Bermula anak-anak kemudian izin ke toilet sekolah dengan
alasan sakit perut. Dan dari laporan para murid, mereka mengalami
diare dan bahkan ada yang sudah empat hingga lima kali ke toilet.
“Awal mula kami tahu itu kurang lebih jam 07.30 pagi ketika
pembelajaran di kelas anak-anak ijin kepada guru untuk ke kamar mandi,
ke kamar mandi itu, mereka mencret, bolak balik sudah empat lima kali
mencret,” kata Roslin.
Para murid kemudian diarahkan ke ruang UKS sambil memberi air
hangat dan minyak gosok, tapi masih ada beberapa siswa yang muntah.
Sehingga kondisi tersebut diberitahukan ke orang tua untuk datang dan
menjemput anak-anak yang mengalami gejala ringan.
Awalnya, 18 siswa dilaporkan keracunan dan berkembang menjadi
ratusan siswa dengan keluhan sakit perut yang melilit, pusing, mual
dan bahkan ada yang muntah.
Pihak sekolah langsung melaporkannya ke Dinas Pendidikan Kota
Kupang ketika merasa kondisi itu menjadi kejadian luar biasa karena
melihat semakin banyak siswa yang mengalami dugaan keracunan. “Langkah
kedua yakni kami menghubungi ke Puskesmas Oesapa dan arahan dari
Puskesmas harus dibawa ke rumah sakit, sehingga anak-anak lalu dibawa
ke rumah sakit SK,” tuturnya.
“Tapi karena banyaknya anak-anak yang mengalami sakit dan
sampai ratusan sehingga ada yang dibawa ke Rumah Sakit Siloam dan
Rumah Sakit Mamami,” jelas Roslin, tulis cnni. (nasya-01)
