
Bandung Barat, hariandialog.co.id – Bidang Keluarga Berencana, Ketahanan, dan Kesejahteraan Keluarga pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung Barat, Keluarga Berencana Kesehatan Reproduksi (KBKR) sudah menjalankan kegiatan sesuai amanat perencanaan dan penganggaran secara teknis sudah dilaksanakan.
Kepala dinas DP2KBP3A Kabupaten Bandung Barat (BB) Panji Hernawan,S.H.,M.Si,melalui Kepla bidang Keluarga Berencana Kesehat Reproduksi” KBKR” Aam Lia Kartifah saat di temui ‘hariandialog co.id di Gedung A lantai 4 Perkantoran Pemkab Bandung Barat (KBB),di Jalan Padalarang Cisarua Km’2 Kecamata Ngamprah (22/12/2025) hari Senin.
Ia menuturkan,adapun untuk hasil secara total kita menunggu hingga akhir bulan Desember karena belum pelaporan rutin bulanan akan di rekap atau tersampaikan dari UPT Maksimal per tanggal 3 di setiap bulan.
Untuk capaian total belum bisa kami sampaikan karena kita menunggu laporan dari lapangan melalui bidang Pengendalian Penduduk (Dalduk) dan Daltin. Untuk rekap data semua terpusat di bidang Daltin, rekonsiliasi bidang daltin sampai tanggal 3 sebelum rilis capaian akhir di tanggal 10 setiap bulannya.

Aam Lia Kartifah menyatakan’
Khusus Bidang KBKR jika dilihat dari progres sudah baik ,Perkiraan Permintaan Masyarakat “PPM” Keluarga Berencana(KB) maupun pelaksanaan program optimis tercapai di atas 100 persen baik peserta KB Baru atau peserta KB ganti cara karena pedoman kami melihat dari indikator kinerja utama”Ucapnya.
Ia pun menyebutkan’ Indikator kinerja utama tersebut kami lihat dan evaluasi setiap bulannya. Capaian akhir Bulan November sudah cukup bagus progresnya, terkait kegiatan kontrasepsi khususnya vasektomi KB Pria di Bandung Barat ini cukup luar biasa dari target tingkat provinsi hanya 52 akseptor Vasektomi sedunia bulan kemarin mencapai melebihi dari 100% di tambah dari APBD 70 orang akseptor kemudian kita capaian hampir 129 orang dari target 50 orang.
Itu merupakan pencapaian luar biasa, capaian KB Pria di Bandung Barat ini signifikan naik baik dari jumlah maupun kualitas dari tahun sebelumnya, ini menjadi target kami tahun depan bahwa memang KB Pria sudah harus menjadi prioritas program disaat para pria sudah peduli apalagi dikaitkan dengan Hari Ibu.
Hari Ibu menunjukan kebebasan seorang ibu atau pasangan usia subur mininal menjadi peserta KB. Tentunya KB Pria yang ada masih di fasilitasi pemerintah kondom dan vasextomi.
Khusus Kondom itu bisa di berlakukan untuk pasangan masa subur tetapi untuk Vasektomi itu harus ada indikator tertentu tidak untuk pasangan usia subur. Vasektomi di khususkan untuk pasangan usia subur yang memang sudah tidak berniat punya anak lagi. Kemudian resiko yang dialami ibu tidak memungkinkan cara KB Perempuan.”Imbunya.
Dari sisi Kesehatan Reproduksi kita masih perlu sosialisasi KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) karena kita punya tugas usia kawin perempuan di Bandung Barat cenderung masih ada yg di bawah usia 21 tahun kalau Jawa Barat menargetkan untuk usia 21 (Wanita) sampai 25 (Pria) tahun.
Kenyataan di Bandung Barat masih ada yang usia di bawah 19 atau 18 tahun sudah menikah, untuk mengantisipasi agar melahirkan tidak terlalu muda, oleh teman-teman penyuluh KB dilapangan kami melakukan KIE agar pasangan usia subur yang terlampau menikah di usia muda ini di harapkan memakai kontrasepsi sesuai anjuran.
Ketika fisik dan mental untuk menjadi pasangan sebagai orang tua dan sesuai dengan indikator usia yang di sarankan untuk kesehatan reproduksi yang dari usia 21 (wanita) 25 (pria) silahkan lepas dari kontrasepsi dan rencakan untuk punya anak.
Kita mengoptimalkan promosi KIE 4T (Empat Terlalu) Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Banyak, Terlalu Dekat sebaiknya jangan. Perempuan di atas usia 35 baiknya stop untuk melahirkan karena terkait dengan Kespro.
Dengan 2 anak lebih sehat silahkan keluarga pasangan usia subur untuk program anak tetapi jangan melanggar Hak-hak anak. Misalnya anaknya banyak dan Hak anak terlanggar itu akan menjadi resiko, minimal ASI Exclusive kalau terlalu dekat jaraknya sebelum anak usia 2 tahun berarti itu sudah melanggar Hak anak untuk disusui sampai 2 tahun.
Hak Anak dari sisi Pendidikan dan masih banyak lagi dan dikembalikan lagi ke keluarga. Asalkan jangan melanggar hak-hak anak sehingga penjaminan kesehatan reproduksi si ibu juga terjamin.”Ujarnya.
Alhamdulillah untuk Bandung Barat dengan kegiatan bersinergi bersama-sama sehingga kami selalu mendapatkan juara yang sifatnya di lombakan reward dari pemerintah pusat maupun provinsi. Khusus untuk KB Pria Vasektomi kita selalu menjadi lupus pelatihan dari tingkat pusat dan kita pernah menjuarai Juara 1 Regional 1 Nasional.
Bekerja itu bagaimana kita bersama-sama memanage kegiatan bersinergi berkonvergen dengan semua pihak karena bekerja itu tidak bisa sendiri. Kami hanya memberikan komunikasi informasi edukasinya sementara kalau yang mengeksekusi pelayanannya Dinas Kesehatan.
Kolaborasi dari Dinkes melalui Puskesmas, Polindes dan lainnya dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sudah sangat luar biasa khusus Percutaneous Coronary Intervention (PCI) di Bandung Barat karena tanpa mereka apalah artinya capaian kesertaan KB yang diberikan PPM.
Diakhir kata”Aam menerangkan-
Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) fungsi kita itu memaparkan memberikan KIE. Kami kolaborasi karena memang di Perpres 72 terkait stunting juga ada kolaborasi jadi kami bagaimana menghindari tadi yang 4T. Resiko kehamilan yang 4T baiknya di hindari.
Terkait PMT ibu hamil dan pemberian tablet tambah darah termasuk Pemberian suplemen semuanya sama Dinas Kesehatan yang mengcover, kita sudah tidak bisa lagi mengadakan untuk pemberian karena memang sesuai kodefikasi itu tugasnya kemenkes dalam hal ini Dinkes. Kita hanya memberikan penyuluhan saja dengan data yang sudah tercatat. (Nagon)
