
Parapat, hariandialog.co.id.- Warga di sekitar Danau Toba
mulai terheran-heran dengan turun atau menyusutnya air. “Sudah hampir
satu meter air danau ini menyusut. Tidak jelas kenapa. Padahal, hujan
turun – turun juga walau tidak menentu,” kata Saur warga Parapat.
Padahal, lanjut Saur, yang sehari-harinya bekerja sebagai
pengemudi kapal pelancong atau kapal wisata, belum saatnya musim panas
atau kemarau. “Jadi kita heran kenapa air danau toba ini menyusut.
Dulu batas air setiap pagi hingga sore hari kita lihat jelas sampai
disini. Sekarang sudah menurun dan ini buktinya,” jelasnya sambil
menunjukkan batas tinggi air dulu dan kenyataan sekarang.
Tentu dengan menurunnya air danau toba para pengais rezeki
dari danau toba, penadapatnya juga otomatis menurun. “Yah, setelah
menurunnya air danau toba sebagai petunjuk akan berkurangnya penapatan
para pengusaha atau penyedia alat alat bermain di air, mulai dari
bebek-bebekan, spead boat, selancar tarik dan kapal tour keliling,”
ungkapnya.
Saut juga menjelaskan sejak akhir Desember 2025, sudah
menurun dan jelas pendapatan dari membawa touris baik domestik maupun
mancanegara , jarang. “Coba Hari Natal dan Tahun baru tidak ada
penumpang yang mau ajak naik kapal untuk mutar-mutas, tidak jelas apa
alasannya,” ujarnya.
Sebenarnya bukan hanya mereka penyedia alat bermain di air
yang mengeluh tapi juga para pengusaha perhotelan. Angka orang yang
menginap di hotel-hotel khususnya dipingiran atau yang piunya ke danau
toba menurun. “Kalau kita ngobrol-ngobel dengan manajer hotel angka
penghuni yah paling tinggi terjual 20 persen dari kamar yang ada. Jadi
penderitaan pendapatan bukan hanya kita para pelayan permainan air
maupun kapal keliling,” jelas Saur. (sondang-01)
