
Jakarta, hariandialog.co.id – Kisah perjalanan dan perjuangan squad Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang selama ini kita ketahui diatas lapangan hijau, kini bisa kita nikmati mellui layar lebar, lewat film dokumenter “The Longest Wait”. Film dokumentar yang mengungkap kisah panjang penuh emosi, pengorbanan, dan harapan bangsa tentang sepakbola Indonesia ke Pentas Dunia, lewat sajian menarik, tidak hanya tentang sepak bola, tetapi tentang identitas, budaya, dan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia.
Film dokumenter “The Longest Wait” resmi diperkenalkan sebagai potret mendalam perjalanan Timnas Indonesia, sebuah kisah yang selama ini hanya terlihat sepintas melalui pertandingan dan cuplikan di layar kaca. Yang diperkenalkan di XXI Lounge Plaza Senayan Jakarta, Rabu (29-04-2026).
Peluncuran film dokumentar “The Longest Wait”, menghadirkan Shayne Pattynama (Pemain Timnas Indonesia), Nova Arianto (Legenda Timnas Indonesia), Donovan Chan (Executive Produser Beach House Pictures), Sakti Parantean (Executive Produser Fremantle Indonesia), Adisti Nirmala (Marketing Director AQUA), Fauziah Ulfah (VP Corporate Event & Sponsorship Bank Mandiri) serta dua perwakilan supporter Indonesia.
Bagi para pemain, tentunya kehadiran film ini menjadi sesuatu yang sangat personal. Shayne Pattynama, salah satu pemain timnas menyebut bahwa dokumenter ini membuka sisi yang selama ini tak terlihat publik.
“Biasanya orang hanya melihat kami bermain. Tapi di sini mereka bisa melihat emosi, kebersamaan, dan sisi manusia kami. Kami bukan robot,” tambah Nova Arianto, Legenda Timnas Indonesia, yang cukup lama berkecimpung dalam timnas Indonesia .
Pengorbanan Tak Terlihat
Begitupun dari sudut pandang pelatih, film dokumenter ini membuka sisi perjuangan para pemaiin , termasuk para pemain naturalisasi yang jarang diketahui publik. “Pemain harus menempuh perjalanan jauh, bahkan dari luar negeri, jauh dari keluarga. Mereka juga harus menjaga disiplin tinggi dan menghadapi ekspektasi besar dari masyarakat,” ungkap Nova Arianto, salah seorang pelatih yang paling lama terlibat dalam squad timnas Indonesia.
Menurutnya, film ini menjadi bentuk apresiasi atas pengorbanan tersebut.
Film dokumenter ini menangkap dinamika di balik layar, dari ruang ganti, momen santai antar pemain, hingga tekanan besar yang mereka hadapi demi membawa nama Indonesia ke panggung dunia.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Sementara itu Donovan Chan, selaku produser film “The Longest Wait” menilai bahwa cerita Timnas Indonesia layak diangkat ke layar lebar karena memiliki kekuatan emosional dan nilai universal.
“Ini bukan hanya soal menang atau kalah. Ini tentang perjalanan, persahabatan, keluarga, dan mimpi. Itulah yang membuat olahraga begitu kuat,” ungkap Donovan, Executive Produser Beach House Pictures.
Donovan juga menyoroti bahwa kisah olahraga Asia, termasuk Indonesia, masih jarang mendapat panggung global. “Indonesia punya passion sepak bola yang luar biasa. Energinya terasa dari pemain hingga masyarakat,” tambahnya.
Film ini juga menjadi refleksi perjalanan panjang sepak bola Indonesia, yang pernah mencicipi Piala Dunia puluhan tahun lalu, sebelum kemudian seakan tenggelam dari panggung global. Kini, kebangkitan Timnas tidak hanya terlihat dari performa di lapangan, tetapi juga dari perubahan budaya di tribun.
“Stadion sekarang bukan sekadar tempat pertandingan. Ini sudah jadi ruang budaya. Semua kalangan hadir—anak-anak, perempuan, keluarga. Ini tentang kebanggaan sebagai orang Indonesia,” ujar Sakti Parantean, Executive Produser Fremantle Indonesia.
Supporter: Pemain ke-12 yang Diabadikan
Tak hanya pemain, film ini juga memberi ruang bagi supporter sebagai bagian penting dari perjalanan Timnas. Perwakilan supporter mengaku antusias karena pengalaman mereka akhirnya diangkat ke dalam cerita.
“Kami juga punya perjuangan—perjalanan jauh, kendala saat away game, sampai momen emosional di stadion. Itu semua sekarang diabadikan,” ujar salah seoarang suporter yang hadir dalam peluncuran film ini.
Supporter lain menambahkan bahwa film dokumenter ini menjadi cara untuk “menghidupkan kembali” emosi yang pernah dirasakan. “Ini bukan hanya tentang tim, tapi juga tentang kami sebagai pemain ke-12,” katanya.
Kebanggaan Sponsor pendukung
Kebedaaan filim dokumenter ini juga tak luput dari peran dan keterlibatan berbagai pihak seperti Aqua dan Bank Mandiri yang berperan besar dalam film ini.
Adisti Nirmala, Marketing Director AQUA, melihat kesamaan filosofi dalam semangat yang “terus mengalir” dari Aqua dengan semangat film documenter ini. “Ini tentang passion yang murni—dari pemain, supporter, hingga seluruh ekosistem. Kami bangga menjadi bagian dari cerita ini,” ujar Adisti Nirmala.
Hal senada disampaikan. Fauziah Ulfah, VP Corporate Event & Sponsorship Bank Mandiri, yang menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan mereka dalam membangun prestasi olahraga. “Konsistensi adalah kunci. Kami ingin terus mendukung agar lahir atlet-atlet unggul yang bisa membawa Indonesia ke level dunia,” tandasnya.
Cerita untuk Generasi Mendatang
“The Longest Way” Lebih dari sekadar filmdokumenter, namun juga diposisikan sebagai sebuah legacy—warisan cerita untuk masa depan.
Dimana film ini tidak hanya merekam hasil pertandingan, tetapi juga emosi, perjuangan, dan identitas sebuah bangsa yang terus bergerak maju.
“Ini adalah cerita yang layak dikenang dan diceritakan kembali kepada generasi berikutnya,” tutur salah satu perwakilan.
Di balik setiap sorak sorai di stadion, ada cerita panjang yang akhirnya menemukan jalannya ke layar lebar. “The Longest Way” bukan hanya film tentang sepak bola, namun ini adalah cermin tentang Indonesia, tentang mimpi yang belum selesai, dan tentang semangat yang tak pernah berhenti mengalir. (zal)
