
MEDAN hariandialog.co.id – Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya menyebut keris bukan sekadar benda tajam, melainkan identitas dan adab orang Sumatera Utara.
Hal itu ditegaskan Surya saat membuka Pameran Pusaka Nusantara Keris Semenda Melayu yang digelar Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Sumut dalam Festival Seni Sumatera Utara, Sabtu (9/5/2026).
Pameran menampilkan 20 bilah keris dari abad 17–20 Masehi dan dihadiri Sekda Provsu, Kadis Pariwisata, serta Ketua SNKI Sumut OK Zulfani Anhar.
Dalam sambutannya, Surya mengapresiasi konsistensi SNKI Sumut merawat peradaban. “Keris Melayu Sumatera ini bukan sekadar benda tajam. Pamornya adalah doa, luk-nya adalah laku hidup, warangkanya adalah adab.
Ini identitas kita,” tegasnya. Ia menambahkan, Pemprov Sumut akan mendorong Museum Negeri Sumut menjadi pusat edukasi keris untuk anak muda. “Jangan sampai generasi kita kenal produk luar negeri tapi lupa keris luk 7,” ujarnya disambut tawa pengunjung.
Ketua SNKI Sumut OK Zulfani Anhar menjelaskan pameran bertema “Merawat Akar, Menjaga Peradaban” itu menghadirkan koleksi dari kolektor dan penggiat budaya di Deli, Serdang, Langkat, dan wilayah Sumut lainnya. Menurutnya, keris tosan aji justru merekatkan persatuan. “Ada keris Melayu, Jawa, Karo, Simalungun, Mandailing. Artinya leluhur kita dulu sudah hidup rukun.
Tugas kita melanjutkan,” kata OK Zulfan yang juga Kabid Kebudayaan Pemko Medan.
Untuk menarik generasi muda, SNKI Sumut menyiapkan edukasi besalen atau pembuatan keris di sekolah-sekolah Kota Medan bulan depan.
“Biar anak muda tahu, keris itu warisan tinggi para leluhur. Nggak kalah sama teknologi kini,” jelas OK Zulfan. Pameran 8–9 Mei 2026 ini juga dilengkapi zona interaktif foto baju adat dengan keris dan beragam games. Dina (19), mahasiswa USU, mengaku terkesan. “Kirain serem. Ternyata estetik banget. Pamornya kayak galaksi. Habis ini mau ajak temen-temen UKM Seni Budaya ke sini,” katanya.
Turut hadir Kadisbudpar Sumut, pakar perkerisan Pak Ari dosen USU, kolektor keris Medan Bang Awi, dan puluhan komunitas budaya se-Sumut. Pameran dibuka gratis untuk masyarakat, pelajar, dan mahasiswa sebagai upaya mengenalkan keris sebagai warisan budaya tak benda UNESCO yang hidup dan relevan.
(Khairul Amri)
