
Bangli-Bali,hariandialog.co.id-Desa Wisata Penglipuran kembali bersiap menggelar Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 Tgl 9–11 Juli 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali. Festival tahun ini mengangkat tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif.” Melalui tema ini , Penglipuran ingin menyampaikan pesan bahwa pariwisata masa depan tidak cukup hanya ramai dikunjungi. Pariwisata harus mampu menjaga adat, merawat lingkungan, menguatkan ekonomi masyarakat, memperkaya pengalaman wisatawan, serta mewariskan desa lebih baik kepada generasi mendatang.
Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran Wayan Sumiarsa kepada pul;uhan media Senin (22/6 ) menjelaskan,Penglipuran Village Festival XIII bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang kebersamaan mempertemukan budaya, lingkungan, UMKM, edukasi, dan semangat regeneratif masyarakat desa.
“Penglipuran tidak hanya ingin dikenal sebagai desa wisata yang indah, bersih, dan tertata. Kami ingin Penglipuran menjadi contoh desa wisata hidup, berbudaya, inklusif, dan regeneratif. Festival ini adalah undangan kepada masyarakat Indonesia dan wisatawan dunia datang, merasakan, belajar, mendukung produk lokal, dan ikut menjaga warisan Penglipuran,” ungkap Wayan Sumiarsa. Didampmgi Pengamat Ekonnomi dan Pariwisata Bali, Trisno Nugroho dan Umar Khatab Pengamat Kebijakaan Publik. .
Sumiarsa menyebut , Festival bukan saja Menjaga Kualitas, dan Sekadar Mengejar Jumlah kunjungan wisatawan dari t Januari – Mei 2026, Desa Wisata Penglipuran mencatat kunjungan sebanyak 308.444 wisatawan. jumlah, kunjungan ini lebih rendah dibandingkan periode sama tahun 2024 dan 2025 Namun, kondisi ini menjadi momentum bagi Penglipuran memperkuat kualitas pengelolaan, menjaga daya dukung desa, serta meningkatkan kenyamanan pengunjung dan manfaat bagi krama.
Tak Ingin Dewi Penglipuran Overtourism
Saat ini, rata-rata kunjungan di kisaran 2.000 sd. 2500 wisatawan per hari, masih sesuai dengan daya dukung Desa Wisata ( Dewi ) Penglipuran. Wisatawan Nusantara masih mendominasi kunjungan, menunjukkan, bahwa Penglipuran tetap menjadi destinasi budaya yang dicintai masyarakat Indonesia.
“Kami tidak ingin Penglipuran mengalami overtourism. Keberhasilan desa wisata bagi kami tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi dari kemampuan pariwisata menjaga adat, lingkungan, tata ruang, rumah adat, dan kesejahteraan krama,” tambahnya”.
Sepanjang tahun 2026, Penglipuran memperkuat sejumlah program perbaikan, antara lain pengelolaan sampah, perbaikan jogging track, perbaikan rumah-rumah adat, subsidi perbaikan rumah adat, insentif hari raya bagi krama, pembangunan relief sejarah Desa Penglipuran, serta perbaikan tata kelola melalui pembentukan badan usaha desa adat.
Seluruh program diarahkan mewujudkan Sapta Misi Desa Adat Penglipuran menuju desa wisata regeneratif, yaitu menguatkan krama, menjaga alam, meneguhkan adat dan spiritualitas, membangun ekonomi desa, menjaga tata ruang dan identitas, mengembangkan UMKM serta produk lokal, dan mewujudkan tata kelola yang terpercaya serta berkelanjutan.
Penglipuran Village Festival XIII dirancang sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga pengalaman. Festival ini mengusung konsep 4S, yaitu Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn.
Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat keindahan desa, tetapi juga dapat ikut melakukan aktivitas kreatif, menyaksikan pertunjukan budaya, membeli produk lokal, menikmati kuliner, mengenal UMKM, mengikuti workshop, serta belajar tentang lingkungan dan kehidupan masyarakat desa adat.
Rangkaian kegiatan festival akan menghadirkan tari kolosal, parade gebogan, tari penyambutan, Tari Palegongan “Raksan Gumi”, bondres, seni pertunjukan, lomba penjor, lomba gebogan, lomba busana tempoe doloe, workshop lingkungan, Yoga Tertawa, musik lokal, pameran, kuliner, handicraft, souvenir, merchandise, serta paket pengalaman wisata berbasis desa.
“Kami ingin wisatawan pulang tidak hanya membawa foto, tetapi juga membawa cerita, pengetahuan, rasa hormat, dan pengalaman bermakna tentang harmoni hidup masyarakat Penglipuran,” jelas Wayan Sumiarsa.
Mengundang Indonesia dan Dunia ke Penglipuran
Selama Tiga Hari Perayaan Harmoni Bhumi Penglipuran hari pertama, Kamis, 9 Juli 2026, festival dibuka bernuansa budaya yang kuat dengan penyambutan tamu undangan, tari kolosal, parade gebogan, tari penyambutan, pembukaan resmi festival, Tari Palegongan “Raksan Gumi”, bondres, peninjauan stand pameran, penilaian lomba gebogan, penilaian lomba penjor, serta seni pertunjukan.
Pada hari kedua, Jumat, 10 Juli 2026, festival akan menghadirkan workshop lingkungan, lomba busana tempoe doloe, serta musik lokal. Hari kedua ini menjadi ruang edukasi, kreativitas, dan ekspresi generasi muda.
Pada hari ketiga, Sabtu, 11 Juli 2026, festival menghadirkan Yoga Tertawa dan musik lokal sebagai simbol kegembiraan, kesehatan, kebersamaan, dan energi positif masyarakat Penglipuran.
Penglipuran Village Festival XIII menjadi ajakan terbuka kepada masyarakat Indonesia dan wisatawan mancanegara untuk hadir dan merasakan langsung kehidupan desa adat Bali yang harmonis, bersih, tertata, dan berbudaya.
Festival ini juga menjadi ruang penting untuk memperkuat peran UMKM dan produk lokal. Melalui stand kuliner, handicraft, souvenir, merchandise, dan paket pengalaman wisata, manfaat pariwisata diharapkan semakin dirasakan oleh masyarakat desa. “Datang ke Penglipuran Festival berarti menikmati budaya, belajar dari desa, mendukung UMKM lokal, dan ikut menjaga masa depan pariwisata Bali,” ujar Wayan Sumiarsa.
Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 adalah momentum untuk merayakan wajah Bali yang hidup: adatnya kuat, alamnya dijaga, masyarakatnya terlibat, UMKMnya tumbuh, dan pariwisatanya bergerak menuju masa depan regeneratif. ( */NL ).
