Faturochman Dianinaya Bambang Setiawan Tewas
Jakarta, hariandialog.co.id.- Unjuk rasa yang dilakukan banyak orang di depan Gedung DPR RI (27/08/2026) masih meninggalkan duka yang mendalam khususnya keluarga Bambang Setiawan yang meninggal akibat dianiaya rame-rame oleh banyak orang.
Faturohman, 18 tahun warga Pejompongan, Jakarta Pusat, babak belur dalam kericuhan itu, sementara warga lainnya, Bambang Setiyawan tewas dalam kondisi mengenaskan.
Kericuhan itu imbas dari demonstrasi yang digelar di gedung DPR RI.
Seperti diketahui, demo yang awalnya dilakukan massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) itu awalnya berlangsung damai.
Bahkan perwakilan AMPB sempat beraudiensi dengan pimpinan DPR terkait dengan pengesahan RUU Perampasan Aset.
Setelah DPR berjanji akan mengesahkan RUU Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026, massa AMPB lalu membubarkan diri.
Hal ini justru memicu kerusuhan sekelompok orang di sekitar gedung DPR RI.
Massa masuk ke kawasan Pejompangan yang jaraknya 2-3 km dari gedung DPR.
Saat kericuhan terjadi di Jalan Pejompongan Raya, Fatur mengatakan sedang berada di dalam gang rumah.
Tak lama kemudian, sejumlah orang yang terlibat dalam kericuhan masuk ke area tersebut.
“Setelah itu mendorong saya sampai jatuh, (mereka) masuk ke sini dan menarik saya. Narik saya,” ungkap Fatur saat ditemui Kompas.com, Jumat (28/8/2026).
Fatur mengaku sempat menjelaskan ia merupakan warga setempat. Namun, sekelompok orang tersebut tetap membawanya keluar dari gang.
“Ya sudah saya ngomong ini saya warga sini. Dia enggak percaya, ya sudah saya dibawa ke luar,” kata Fatur.
Setelah ditarik keluar dari gang, Fatur mengaku langsung dipukuli oleh sejumlah orang yang berada di lokasi.
“Langsung narik ke luar, dan langsung disamperin sama teman-temannya digebugin saya,” ujar dia.
Fatur kemudian dibawa ke kawasan DPR.
Di lokasi tersebut, ia mengaku mendapat intimidasi dan dipaksa mengakui sebagai provokator dalam kericuhan.
Ia juga mengaku mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan di beberapa bagian tubuhnya.
“Ada pemaksaan. Ada (pemukulan) di bagian dada, terus punggung, kepala,” ujar dia.
Selain dipukul menggunakan tangan kosong, Fatur menyebut dia juga dipukul menggunakan benda tipis yang disebutnya menyerupai pisau atau penggaris.
Sementara itu, Fahmi, guru sekolah Fatur, membenarkan posisi anak didiknya saat kejadian berada di dalam gang rumah, bukan di area jalan utama.
“Padahal posisi anaknya ini dari gang rumah, bukan pinggir jalan ya. Gang dalam rumah ini, silakan dilihatin aja gang dalam rumah bukan pinggir jalan. Ditarik, diseret ke depan, digebugin, ditendang,” ucap Fahmi dalam kesempatan yang sama, Jumat.
Fahmi juga menjelaskan sejumlah luka yang dialami Fatur akibat kejadian tersebut.
Menurut dia, Fatur mengalami luka pada bagian kepala, wajah, mata, mulut, punggung, hingga dada.
“Boleh silakan (dilihat) biar lebih jelas ada di bagian kepala. Dan dia giginya, kasih lihat tuh, patah dua,” tambah dia.
Di bagian lain, Bambang Setiyawan tewas diduga akibat dianiaya sekelompok orang perusuh yang masuk di wilayah Pejompongan Raya, setelah demonstrasi di gedung DPR RI.
Ketua RT 02 RW 06 Benhil, Aban Sobandi mengatakan penanganan aksi demonstrasi kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut ada pihak yang tidak dikenal dan menilai warga seperti diadu domba.
“Memang penanganan demo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Jadi, yang turun itu orang-orang (tidak diketahui) seperti (warga) diadu domba,” ujarnya.
Menurut Aban, kericuhan terjadi ketika massa yang disebutnya datang seperti anak-anak pelajar memasuki kawasan tersebut.
“Datang kayak anak-anak pelajar, kemudian datang penyusup. Jadi kita berperang antara pendemo dengan warga. Maka timbullah yang jadi korban itu warga, bukan pendemo lagi,” jelasnya.
Sebelum kericuhan, Aban mengatakan warga telah mengamankan kelompok rentan.
Lansia dan warga yang memiliki balita diungsikan ke rumah saudara yang berada jauh dari lokasi. Sementara Aban dan warga lainnya tetap berjaga di rumah masing-masing.
“Kalau yang lansia memang saya ungsikan. Lansia atau yang punya balita saya ungsiin ke rumah saudaranya yang jauh,” imbuhnya.
Penjual Cermin
Sebelum kejadian itu, Bambang masih berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya.
Istrinya, Sudarsi (56) mengatakan, sekitar pukul 16.30 WIB ia meminta suaminya menutup dagangan setelah melihat massa mulai ramai.
“Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, ‘Itu massa udah banyak’, saya bilang tutup. Pas dia melihat, ‘Oh ya udah, tutup’. Saya bantuinlah,” ujar Sudarsi saat ditemui di rumah duka, Jumat (28/8/2026).
Setelah itu, Bambang mengantar seseorang yang sakit ke Rumah Sakit Pelni bersama anaknya. Ia kembali ke rumah sekitar pukul 21.00-21.30 WIB.
Setelah situasi dinilai aman, Bambang kembali keluar menuju tokonya di lokasi kericuhan. Namun, ia tak kunjung pulang.
Sekitar pukul 04.00 WIB, keluarga mengetahui Bambang meninggal setelah anaknya mengenali sang ayah dalam video yang beredar di media sosial.
Bambang Disebut Diseret dan Dipukuli
Dalam video yang diperlihatkan kepada Kompas.com, tampak sejumlah pria membawa kayu. Seorang pria terlihat diseret dan dipukuli sekelompok pria.
Sudarsi mengatakan keluarga tidak melihat langsung kejadian tersebut.
“Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu,” tuturnya.
Jenazah Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri sebelum menuju rumah duka di Bendungan Hilir.
Bambang rencananya dimakamkan di TPU Kemanggisan.
Aban mengaku berada di lokasi saat kericuhan, tetapi tidak melihat langsung kejadian yang dialami Bambang karena pandangannya terhalang kerumunan.
Ia kemudian meminta keterangan dari tetangga Bambang yang merekam video tersebut. Menurut keterangan yang diterimanya, Bambang diseret dan dianiaya sekelompok pria.
“(Bambang) Digeret-geret,” ucap Aban
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan dari Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto meski telah dimintai konfirmasi terkait tewasnya Bambang dan kejadian yang menimpanya, tulis jpnn. (red-01)
