Grobogan, hariandialog.co.id – Menanggapi keresahan warga petani Grobogan berkaitan dengan harga gabah yang anjlok di panen Musim Tanam (MT) ke-2 ini, sebagaimana dimuat terbitan sebelumnya, dimana anjlognya harga gabah mencapai kurang lebih antara 40 – 60 persen dari hasil pertanian, sehingga petani mengalami kerugian.
Hal itu dialami beberapa petani di wilayah kecamatan Penawangan, Godong, Karangrayung, dan sebagaimana lebih-lebih ini saat musim pandemi sehingga pembeli (penebas) dari luar kota seperti biasanya dari Cirebon, Pati dan sebagainya tidak ada sehingga penebas lokal tidak berani dengan harga standard.
Sebagaimana yang disampaikan beberapa petani di Godong, Penawangan dan Karangrayung biasanya kalau normal tidak di serang hama putih 1 bau bisa laku + Rp. 15 juta – Rp. 20 juta, tapi sekarang 1 bau hanya laku berkisar Rp. 4 juta – Rp. 6 juta, sehingga petani mengalami kerugian yang sangat besar sekali.
Kepala Dinas Pertanian sekaligus merangkap Kadinas Ketahanan Pangan Dr. Sunanto, S.ST,MP kepada Dialog mengatakan dinas sudah berusaha ke kementerian terkait dan juga ke Bulog Jateng di Semarang agar bisa membeli gabah petani sesuai harga standard, namun sampai sekarang belum ada keterangan lebih lanjut.
Lebih lanjut kadinas mengatakan kalau bisa petani menyetop gabah itu dulu jangan tergesa-gesa dijual, tapi ya gimana petani kan juga dikejar butuh sehingga sulit, dan dia berharap Bulog Jateng di Grobogan bisa membeli gabah petani sesuai harga standard harga sehingga petani bisa tertolong.
Atau dengan sistem Resi Gudang (RSG) penitipan hasil panen sampai dengan 75 persen. Selanjutnya di musim ketiga dianjurkan menanam kedelai dan jagung, sebab akan diberi bantuan bibit, pupuk dan obat-obat. Saat ini harga jagung mencapai Rp. 5.000 per kg dan kedelai Ro, 9.000 per kg, berarti melebihi harga gabah. (Sub/Sul)
