Jakarta, hariandialog.co.id.- PT Bank Negara Indonesia (Persero)
Tbk. (BBNI) atau Bank BNI menyatakan telah melakukan penandatangan
perjanjian fasilitas pinjaman senilai US$500 juta atau sekitar Rp7,51
triliun (kurs Rp15.034,7 per dolar AS). Berdasarkan keterbukaan
informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), transaksi tersebut dilakukan
pada 19 September 2022 dengan nomor surat KMP/7/4681.
Sekretaris Perusahaan BNI Okki Rushartomo menjelaskan BNI
telah menandatangani Facility Agreement atas fasilitas pinjaman
sebesar US$500 juta dengan 5 perusahaan, di antaranya Bank of China
(Hongkong) Ltd., Citigroup Global Markets Asia Ltd., CTBC Bank Co.
Ltd., Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd., dan United Overseas
Bank Ltd. yang bertindak sebagai Mandated Lead Arrangers & Bookrunners
(MLAB). “Adapun yang bertindak sebagai Agen untuk fasilitas pinjaman
adalah CTBC Bank Co. Ltd.,” jelas Okki dalam keterbukaan informasi,
Kamis (22/9/2022) seperti ditulis bisnis .
Sementara itu, fasilitas pinjaman tersebut berjangka waktu
3 tahun dan bersifat clean basis (tanpa jaminan). Lebih lanjut,
fasilitas pinjaman tersebut juga akan digunakan antara lain untuk
pembiayaan kembali utang yang telah ada (debt refinancing). Jika
menilik laporan keuangan perseroan, sepanjang paruh pertama 2022, bank
pelat merah bersandi saham BBNI itu membukukan penyaluran kredit
sebesar Rp620,42 triliun atau naik 8,9 persen secara tahunan
(year-on-year/yoy).
Untuk pencairan kredit mengalami pertumbuhan dari
Rp59,3 triliun menjadi Rp74,3 triliun, yang utamanya disalurkan kepada
top tier debitur korporasi.
Lebih lanjut, akselerasi penyaluran kredit ini menjadikan
pembiayaan ke segmen korporasi swasta yang tumbuh 14,7 persen yoy
menjadi Rp205,3 triliun, mengekor segmen large commercial naik 31,2
persen yoy menjadi Rp48,5 triliun, segmen small juga tumbuh 10,2
persen yoy dengan nilai kredit Rp100,2 triliun. Secara keseluruhan,
kredit di sektor business banking tumbuh 7,7 persen yoy menjadi
Rp512,3 triliun.
Adapun dari sisi kredit konsumer, BNI mencetak kinerja
pada bisnis kredit payroll dengan pertumbuhan 19,6 persen yoy menjadi
Rp39,1 triliun dan kredit pemilikan rumah atau KPR meningkat 7,6
persen yoy menjadi Rp51,2 triliun pada semester I/2022. (diah).
