
Medan, hariandialog.co.id – Pekan Olahraga Nasional ( PON) XXI Aceh-Sumut 2024 resmi berakhir, yang ditandai dengan acara seremoni penutupan di Stadion Utama Sumut, Deli Serdang. Jumat (20/9) malam.
Menko PMK, Muhadjir Effendy yang menutup secara resmi gelaran pesta olahraga empat tahunan ini. Dimana untuk pertama kalinya, sukses digelar di dua provinsi bertetangga, yakni Aceh dan Sumatra Utara.
Menko PMK, Muhadjir Effendy dalam sambutannya menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh. Demi memastikan, penyelenggaraan PON di masa depan akan semakin baik.
“PON XXI ini adalah sebuah pencapaian besar bagi kita semua. Namun tentu saja, masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Evaluasi secara komprehensif akan kami lakukan,” ujar Menko PMK.
Dalam PON XXI ini, Jawa Barat sukses menjadi yang terbaik, dengan kembali meraih gelar juara umum. Setelah berhasil mengoleksi 195 medali emas, 163 perak, dan 182 perunggu.
Selanjutnya PON XXII dijadwalkan berlangsung pada tahun 2028 mendatang. Dua propinsi kembali ditunjuk menjadi tuan rumah, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jawa Barat Cetak Hattrick
Kontingen Jawa Barat (Jabar) menorehkan sejarah dengan mencetak hattrick juara umum pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI tahun 2024 Aceh – Sumatera Utara (Sumut),.
Jabar dipastikan menjadi juara umum PON XXI 2024 setelah kokoh di puncak klasemen perolehan medali dan tidak mungkin dikejar lagi oleh saingan beratnya Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta meskipun masih ada 32 emas yang diperebutkan.
Dengan sukses ini maka Jabar sudah tiga kali berturut-turut menjadi juara umum PON sejak menjadi tuan rumah tahun 2016 dan mempertahankannya kembali gelar di Papua tahun 2020 dan kini Aceh – Sumut. Secara keseluruhan sejak PON digelar tahun 1948, ini merupakan gelar juara umum keenam bagi Jabar.
Kendati demikian, kalau dihitung secara total, Jabar masih kalah dari Jakarta yang mencatat juara umum 11 kali. Setelah itu Jawa Timur 2 kali juara umum dan Surakarta sekali. Sedangkan sekali tidak ada juara umum pada PON VI tahun 1965 karena tidak jadi digelar sehubungan peristiwa G-30S PKI.
Sampai Jumat siang, Jabar kokoh di puncak klasemen dengan raihan 195 medali emas, 161 perak dan 182 perunggu. Unggul 11 emas atas Jakarta yang berada di posisi kedua dengan 184 – 149 – 144. Setelah itu Jawa Timur (Jatim) di posisi tiga dengan 145 – 137 – 142 .
Posisi Jabar tidak mungkin digoyahkan Jakarta karena secara total emas yang diperebutkan sudah mencapai 1032 dari total 1039. Meskipun seluruh sisa emas itu diborong Jakarta tidak mungkin lagi mengejar Jabar.
Sumut yang menjadi tuan rumah bersama Aceh, sukses masuk posisi empat besar dengan raihan 79 – 59 – 116. Posisi Sumut tidak mungkin lagi dikejar Jawa Tengah (Jateng) yang mengoleksi 71 – 74 – 114 di urutan lima.
Untuk posisi 10 besar menyusul Aceh di urutan 6 denga 64 – 48 – 77, Bali (7) 36 – 36 – 59, Kalimantan Timur (Kaltim) (8) 29 – 55 – 68, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) (9) 29 – 36 – 52 dan Lampung (10) 22 – 16 – 30.
Sementara itu lima daerah belum mendapat emas yaitu Papua Selatan (Papsel), Sulawesi Barat (Sulbar), Bengkulu, Maluku Utara (Malut) dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Bahkan IKN sama sekali tanpa medali. (zal)
