
Tarutung, hariandialog.co.id.- Beredar luas di beberapa grup WhatsApp wartawan, sejumlah video dengan narasi Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait marah-marah kepada Bupati Tapanuli Utara (Taput) JTP Hutabarat, saat meninjau progres pembangunan 103 hunian tetap (Huntap) di Kecamatan Adian Koting, Kamis, 26-03-2026.
Kunjungan kerja dua menteri maruar Sirait dan Mendagri Tito Karnavian sekaligus dilakukan untuk memastikan progres pembangunan berjalan sesuai rencana dan akan segera diserahkan kepada korban untuk memperoleh tempat tinggal yang layak dan nyaman.
Alih-alih mendapati progres pembangunan sesuai rencana, saat berkeliling meninjau lokasi Huntap dan meninjau pembangunan fisik bangunan, Menteri PKP Maruarar Sirait justru kecewa lalu marah-marah kepada Bupati Taput karena dari 103 unit Huntap, baru 2 unit yang sudah siap huni.
Pembangunan 103 Huntap dimulai sejak 20 Desember 2025 diperuntukkan bagi para korban bencana ekologis yang menerjang wilayah Tapanuli Utara pada akhir November 2025.
Video berdurasi 2,27 menit dan 30 detik itu juga menjadi viral di media sosial yang diunggah sejumlah akun Facebook dan mendapatkan tanggapan beragam netizen.
Bupati Taput, JTP Hutabarat melalui Kadis Kominfo, Donna Situmeang ketika dikonfirmasi Jumat ,27-03-2026 siang menyampaikan bahwa Menteri PKP, Maruarar Sirait memang benar meninjau progres pembangunan 103 Huntap di Kecamatan Adian Koting. Namun soal kebenaran isi video yang terlanjur beredar di luas untuk menanyakan hal tersebut kepada pengunggah video. “Kalau kebenaran tentang video yang diposting orang, bukan sama kami ditanya, tanyakan kepada yang posting ya,” kata Donna Situmeang.
Dalam video yang beredar, saat meninjau lokasi Huntap, Menteri Maruarar Sirait menanyakan kepada Bupati Taput, apakah bisa siap 103 Huntap, dan dijawab siap oleh JTP. “Jangan kau kemarin 20 Desember ngomong siap, sekarang lain lagi. Setiap ketemu berubah-ubah, saya gak bisa begitu kalau kerja. Kemarin janji bulan Mei selesai, betul?,” tanya Maruarar dan dijawab siap oleh Bupati.
Menteri Maruarar kemudian bertanya lagi ingin memastikan 103 Huntap selesai di bulan Mei. Namun JTP Hutabarat menyatakan tidak sanggup. “Kalau untuk 103 tidak pak,” jawab JTP.
Mendengar jawaban Bupati, Maruarar semakin marah dan menyinggung janji-janji sebelumnya agar progres pembangunan Huntap sesuai rencana. “Kenapa tidak? Kenapa waktu itu kau janji bilang bisa selesai, kan kau yang janji bilang gitu kan,. kenapa sekarang berubah?,” tanya Maruarar.
Lebih jauh lagi Maruarar menanyakan lagi sudah berapa unit yang sudah jadi, lalu dijawab baru 2 unit dari 103 Huntap. “Baru 2 unit pak,” jawab JTP
Menteri Maruarar semakin marah sebab baru 2 unit Huntap di Taput yang siap huni, sementara di Kabupaten Tapanuli Selatan, sebut Maruarar sudah 120 yang sudah siap diserahkan kepada warga yang berhak.
Padahal pembangunan Huntap di Taput dan Tapsel sama-sama dimulai pada 20 Desember 2025. “Besok saya ke Tapanuli Selatan, sudah jadi 120 rumah, di sini baru dua. Kenapa lama sekali?,” tanya Maruarar lagi.
Kecewa dengan jawaban Bupati Taput, dan lambatnya proses pembangunan Huntap, Maruarar kemudian ingin membuat suatu kesepakatan agar Huntap segera selesai. “OK sekarang terakhir ya, saya mau deal sama siapa ini, sama kontraktor atau sam bupati ini, sama bupati ya? Lalu dijawab siap oleh JTP. Saya mau tanya, kapan 103 Huntap selesai? dan Bupati Taput terlihat kikuk, kemudian Maruarar meninggalkan lokasi Huntap.
Menanggapi hal tersebut ketua LSM LP3 SU sahala Saragi SH memberikan tanggapan masyarakat yang terdampak bencana tanah longsor tahun kemarin sudah pasti berharap agar pembangunan rumah hunian tetap tersebut cepat terealisasi dan dapat di tempati.dimana sebagian warga tersebut mungkin masih menumpang di rumah keluarga akibat rumah mereka ditimpa longsor yang saat bencana itu memakan korban jiwa tahun 2025 lalu.
Beliau berharap agar pemerintah kabupaten Tapanuli Utara segera menyelesaikan pembangunan perumahan hunian tetap ( huntap ) tersebut pungkasnya kepada awak media, (leo-siagian)
