
Bengkulu, hariandialog.co.id– Dirut baru RSUD M Yunus Bengkulu kinerjanya perlu dipertanyakan. Karena harapan masyarakat Provinsi Bengkulu yang besar sejak RSUD M Yunus memiliki direktur utama baru dari kalangan profesional. Permasalahan layanan, sinergitas SDM hingga kemandirian keuangan yang selama ini kerap menjadi sorotan publik bisa teratasi dengan baik. Namun, harapan publik itu nampaknya belum terpenuhi.
Menilisik laporan keuangan RSUD M Yunus Bengkulu tahun 2022, target pendapatan yang diproyeksikan senilai Rp. 110 miliar gagal tercapai. Pendapatan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Bengkulu ini hanya mampu terwujud Rp 102,1 M atau hanya 92,85 persen.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan laporan pendapatan tahun sebelumnya yang melampaui target. Tahun 2021, manajemen RSUD M Yunus menargetkan pendapatan Rp 100 M dan tercapai Rp 132,1 miliar atau 132 persen lebih.
Angka pendapatan RSUD M Yunus Tahun 2022 masih didominasi kegiatan rutin; BPJS senilai Rp 81,8 miliar dana bantuan Covid-19 yang mencapai Rp 10 miliar pendapatan dari Ikatan Kerjasama (IKS) yang mencapai Rp 3,9 miliar dan pendapatan Rawat Inap Rp 3,4 miliar.
Laporan keuangan RSUD M Yunus Bengkulu tahun 2022 belum menggambarkan adanya inovasi tata kelola keuangan. Mayoritas pendapatan masih berpangku pada kegiatan reguler yang selama ini menjadi sumber pendapatan RSUD M Yunus seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dirut RSUD M Yunus Bengkulu, dr. Anjari Wahyu Wardhani pada saat proses pelantikan April 2022 lalu menyampaikan, tata kelola keuangan RSUD M Yunus dengan sistem Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) akan lebih baik. Ia memproyeksikan RSUD M Yunus bisa mandiri secara keuangan.
“Memang kita harus banyak melakukan perubahan insha Allah kita sama-sama bersinergi melakukan perbaikan. Semoga rumah sakit M. Yunus ke depan menjadi lebih baik dan menjadi pilihan masyarakat Provinsi Bengkulu,” harapnya.
Kondisi laporan keuangan ini dikomentari aktivis Anti-Corruption Commission (ACC) Provinsi Bengkulu, Koordinator ACC Bengkulu, Kelvin Aldo menyebut, kondisi laporan keuangan RSUD M Yunus akan menggambarkan sisi pelayanan kepada masyarakat.
“Ekspektasi publik sangat tinggi dengan hadirnya direktur baru, dari kalangan profesional tapi kalau gambaran keuangannya seperti itu tentu tidak ada bedanya dengan kondisi sebelumnya. Sektor pelayanan adalah harapan tertinggi masyarakat dan itu harus didukung dengan sumber keuangan yang mandiri, itu azas BLUD” jelas Kelvin.
Kondisi manajemen RSUD M Yunus juga disoroti Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Edwar Samsi. Menyebut, kondisi pelayanan RSUD M Yunus tidak menunjukkan kinerja yang baik. Salah satunya terkait obat dan pelayanan para dokter yang bertugas.
Edwar Samsi pada saat sidak, 24 Oktober 2022 lalu, sempat mewarning kepada manajemen RSUD M Yunus terkait persediaan obat di gudang farmasi. Hal itu disampaikan lantaran banyaknya laporan dari masyarakat perihal pasien BPJS yang kerap diminta membeli obat di luar.
“Ini menjadi salah satu fokus kita karena sering ada keluhan jika di RSUD M. Yunus para dokter spesialis terkesan ogah-ogahan melayani pasien. Giliran di rumah sakit swasta mereka lebih ramah. Memang ini cenderung pada personalnya tapi mereka itukan ASN pemprov” katanya kecewa.hasanah
RSUD M Yunus Bengkulu
