Jakarta, hariandialog.co.id – Ada fenomena menarik yang dilakukan umat Muslim Indonesia di tengah pandemi Covid-19 ini. Banyak masjid dan musala yang menggalakkan santunan bagi anak yatim piatu dan fakir miskin. Apalagi di bulan suci Ramadhan 1442 H ini. Salah satunya Musholla Al Istiqomah, Peninggaran, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
“Ini semua bermula dari niat baik. Karena ada niat baik itulah maka Allah SWT melancarkan acara ini,” ungkap Ustaz Kurtubi Zainuddin SPd MPd ketika menyampaikan tausiyah atau nasihat di hadapan 61 anak yatim piatu dan fakir miskin yang menerima santunan, Rabu (28/4/2021) menjelang Maghrib.
Acara tersebut juga dihadiri Ketua Dewan Kemakmuran Musala (DKM) Musholla Al Istiqomah H Nur Ali, pengurus RW dan RT, serta sejumlah undangan lainnya. Acara berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan Covid-19 yang cukup ketat, yakni menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan.
Ustaz Kurtubi juga menyoroti dahsyatnya Surat Al Ma’un yang membuat para donatur tergerak hatinya untuk menyisihkan sebagian rezeki buat membantu anak yatim piatu dan fakir miskin, sehingga hanya dalam waktu seminggu terkumpul donasi sekitar Rp17, 5 juta.
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Ialah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin,” ungkap Ustaz Kurtubi mengutip ayat (1), (2) dan (3) Surat Al Ma’un.
Blessing in Disguise
Usai acara, Ketua Panitia Ramadan 1442 H Muholla Al Istiqomah Karyudi Sutajah Putra menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, terutama para donatur, sehingga acara santunan ini terselenggara dengan baik.
Yudi, panggilan akrabnya, mengungkapkan, krisis ekonomi yang timbul akibat pandemi Covid-19 ini merupakan momentum yang tepat bagi bangsa ini, terutama umat Muslim yang merupakan mayoritas, untuk berbagi dengan sesama. “Covid-19 ini justru kian mengeratkan tali persaudaraan kita sebagai sesama anak bangsa (ukhuwah wathaniyah) dan sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah). Covid-19 adalah common enemy (musuh bersama) yang harus dihadapi secara bersama-sama pula. Antara lain berbagi dengan mereka yang kurang beruntung, seperti anak yatim piatu dan fakir miskin,” jelasnya.
Jadi, kata Yudi, kita harus bisa mengambil hikmah di balik musibah pandemi Covid-19 ini. “Ada blessing in disguise (berkah di balik musibah) di masa pandemi ini. Apalagi ini bulan suci Ramadan yang merupakan momentum emas bagi umat Muslim untuk beramal saleh,” paparnya.
Jika hal tersebut dilakukan umat Muslim yang mampu di seluruh Indonesia, Yudi optimistis krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini akan teratasi. Bahkan tak akan ada lagi kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin jika umat Muslim menggalakkan zakat, di samping santunan tadi.
Yudi lalu mengutip data Baznas, di mana total potensi zakat di Indonesia pada 2020 tercatat sebesar Rp233,84 triliun, dengan porsi terbesar pada Zakat Penghasilan, yakni senilai Rp139,07 triliun.
Potensi senilai Rp233,84 triliun tersebut meliputi Zakat Perusahaan sebesar Rp6,71 triliun, Zakat Penghasilan sebesar Rp139,07 triliun, Zakat Pertanian sebesar Rp19,79 triliun, Zakat Peternakan sebesar Rp9,51 triliun, dan Zakat Uang senilai Rp58,76 triliun.
Namun, kata Yudi, dari total potensi zakat nasional 2020 sebesar Rp233,84 triliun itu, baru Rp8 triliun atau 3,5 persen saja yang terkumpul. “Ini menunjukkan kesenjangan antara potensi zakat dan pendapatan riilnya,” paparnya.
Sebab itu, Yudi berharap umat Muslim di Indonesia makin gencar menggalakkan zakat dan santunan. “Mari kita ber-fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan),” tandasnya. (tim)
