
Wajo hariandialog.co.id— Pemerintah Kabupaten Wajo memperkuat kerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan informasi cuaca dan iklim dapat dimanfaatkan masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan kondisi alam. Sinergi tersebut salah satunya dilakukan melalui Sekolah Lapang BMKG Tahun 2026.
Bupati Wajo Andi Rosman mengatakan, informasi meteorologi perlu disampaikan hingga kepada masyarakat yang berhadapan langsung dengan dampak perubahan cuaca, terutama petani dan nelayan.
“Kita ingin petani tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga mampu memahami dan menggunakannya untuk mengambil keputusan di lapangan,” ujar Andi Rosman saat membuka Sekolah Lapang BMKG 2026 di Ruang Pola Kantor Bupati Wajo, Kamis (24/9/2026).

Menurut Andi Rosman, pemanfaatan informasi cuaca dan iklim dapat membantu petani menentukan waktu tanam, mengantisipasi kekeringan, dan menghadapi perubahan kondisi cuaca yang berpotensi memengaruhi produksi.
Karena itu, Pemkab Wajo mendorong penguatan sinergi antara pemerintah daerah, BMKG, penyuluh pertanian, dan kelompok tani. Kolaborasi tersebut diharapkan membuat informasi prakiraan cuaca dan iklim lebih cepat diterima sekaligus lebih mudah diterapkan di lapangan. “Hal ini menjadi upaya kita menjaga produktivitas pertanian dan mengurangi risiko akibat kondisi cuaca,” kata Andi Rosman.
Wajo memiliki sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat. Kondisi tersebut membuat peningkatan kapasitas petani dalam memahami informasi iklim menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi.
Sekolah Lapang BMKG memberikan edukasi dan pelatihan mengenai cuaca, iklim, serta potensi kebencanaan. Program tersebut diikuti peserta dari Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, Iklim, dan Gempa Bumi.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Balai Besar MKG Wilayah IV Dr. Nasrol Adil, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Wilayah IV Ayu Sudrajat, serta unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, dan peserta pelatihan.
Andi Rosman berharap Sekolah Lapang BMKG tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta, tetapi dapat mendorong pemanfaatan informasi meteorologi dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, ketahanan masyarakat Wajo terhadap dinamika cuaca dan iklim dapat semakin diperkuat. (eddy_wajo)
