
Penglipuran, Bangli–Bali– hariandialog.co.id – Seiring menguatnya cita-cita Penglipuran sebagai Desa Wisata Regeneratif mulai 1 Januari 2026 Desa Wisata Penglipuran memperkenalkan sistem paket berkunjung bagi wisatawan. Langkah ini bukan sekadar perubahan teknis dari sisi tiket, tetapi cara baru bagi desa menjaga harmoni antara kenyamanan tamu, kelestarian alam dan budaya, serta kesejahteraan masyarakat lokal.
Penerapan paket berkunjung ini menandai fase baru pengelolaan Desa Wisata Penglipuran. Jika selama ini Penglipuran dikenal sebagai desa adat yang bersih, tertib, dan berkarakter kuat, kini melangkah jauh: dari sekadar menerima kunjungan, menjadi mengelola pengalaman berkunjung lebih terarah dan bertanggung jawab.
“ Bagi Penglipuran, naik kelas bukan berarti menjadi destinasi eksklusif, tetapi menjadi desa yang sadar terhadap dampak,lebih tertata dalam pengelolaan, dan adil bagi alam, budaya, serta masyarakatnya. Dengan cara ini, setiap tamu yang datang diharapkan tidak hanya menikmati keindahan desa, tetapi juga ikut menguatkan masa depan Penglipuran, “ jelas Kelian Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta, dalam pers release Selasa( 30/12 ) 2025..
Ia mengatakan,inisiatif paket berkunjung ini lahir dari keinginan desa menjaga kualitas pengalaman sekaligus menjaga desa tetap lestari,“Selama ini wisatawan melihat Penglipuran sebagai desa yang indah dan tertib,“Melalui paket berkunjung kami ingin melangkah jauh: setiap kunjungan bukan hanya bermanfaat ekonomi,juga merawat hutan bambu, menghidupkan tradisi, dan menguatkan masyarakat adat kami. Wisatawan yang datang harus turut menguatkan desa, bukan sekadar melewati desa.”

Pendapatan dari penjualan paket berkunjung dikelola secara bertanggung jawab demi kemanfaatan desa dan diprioritaskan untuk yakni ( 1) Meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan wisatawan, agar pengalaman berkunjung menjadi tertata, aman, dan bermakna ( 2) Menjaga dan menghidupkan kembali budaya serta tradisi masyarakat adat mendukung bagi kegiatan seni, upacara, dan pewarisan nilai kepada generasi muda;
Termasuk Merawat kebersihan dan kelestarian lingkungan desa, termasuk kawasan hutan bambu dan ruang publik, melalui pengelolaan sampah dan berbagai inisiatif penghijauan;
Menguatkan peran masyarakat lokal sebagai pelaku utama pengelolaan, dan Pariwisata, melalui peningkatan kapasitas, pemberdayaan UMKM, dan tata kelola yang inklusif;Mendorong program pemulihan dan peningkatan kualitas ekologi serta sosial desa, sehingga setiap kunjungan wisata tidak hanya “minim dampak negatif”, tetapi berkontribusi pemulihan alam, penguatan kohesi sosial, dan ketahanan Desa Penglipuran.
” Kami ingin wisatawan mendapat pengalaman utuh ketika berkunjung: memahami cerita desa, menghargai cara hidup masyarakat, sekaligus tahu bahwa sebagian dari biaya yang mereka bayarkan kembali untuk desa. Dengan begitu, hubungan antara tamu dan tuan rumah menjadi saling menguatkan,” imbuh I Wayan Budiarta.
Diharapkan sistem paket ini,Desa Wisata Penglipuran terus terjaga keseimbangan antara kunjungan wisatawan dan keberlanjutan sosial, budaya, serta lingkungan.Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan tata ruang desa dan suasana asri, tetapi lebih dekat dengan nilai-nilai lokal dan merasa menjadi bagian dari upaya menjaga dan memulihkan Penglipuran.
I Wayan Budiarta, mengajak wisatawan, pelaku pariwisata,dan pemangku kepentingan mendukung inisiatif paket berkunjung ini bagian penting mewujudkan pariwisata berkualitas, berbudaya, dan regeneratif di Desa Wisata Penglipuran, serta memperkuat posisi Penglipuran sebagai salah satu desa wisata rujukan di Bali dan Indonesia ( */NL ).
