Jakarta, hariandialog.co.id.- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis
pesan panjang untuk warga Amerika Serikat (AS) dan seluruh dunia di
tengah perangnya melawan AS-Israel.
Dalam unggahan di media sosial X, Pezeshkian menyampaikan
bahwa Iran, selaku salah satu peradaban tertua dalam sejarah manusia,
tidak pernah sekali pun memulai perang di era modern ini.
Iran tidak pernah memilih jalan agresi, ekspansi,
kolonialisme, atau dominasi meskipun mengalami pendudukan, invasi, dan
tekanan berkelanjutan dari kekuatan global. “Dan meskipun memiliki
keunggulan militer atas banyak negara tetangganya, Iran tidak pernah
memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah menolak
mereka yang menyerangnya,” tulis Pezeshkian dalam unggahan di X pada
Rabu (1/4).
Pezeshkian menuturkan bangsa Iran tidak memusuhi bangsa lain,
termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara-negara Arab. Iran secara
konsisten membedakan dengan jelas antara pemerintah dan rakyat, bahkan
saat di tengah intervensi dan tekanan berulang sekali pun.
Apa Beda Army Rangers dan Navy SEALs yang Dikirim ke Timteng?
Inggris Gelar Rapat Bareng 35 Menlu Bicara Krisis Selat Hormuz Iran
“Ini adalah prinsip yang mengakar kuat dalam budaya dan kesadaran
kolektif Iran, bukan sikap politik sementara. Oleh karena itu,
menggambarkan Iran sebagai ancaman tidak sesuai dengan realitas
sejarah maupun fakta yang dapat diamati saat ini,” tulis Pezeshkian.
Pezeshkian melanjutkan persepsi bahwa Iran merupakan ancaman adalah
produk dari keinginan politik dan ekonomi pihak berkuasa, yang
ditujukan menciptakan musuh guna membenarkan tekanan, mempertahankan
dominasi militer, serta mengendalikan pasar strategis.
“Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ancaman
itu diciptakan. Dalam kerangka kerja yang sama, Amerika Serikat telah
memusatkan sebagian besar pasukan, pangkalan, dan kemampuan militernya
di sekitar Iran, sebuah negara yang, setidaknya sejak berdirinya
Amerika Serikat, belum pernah memulai perang,” tulis sang Presiden.
Menurut Pezeshkian, agresi militer AS baru-baru ini, yang diluncurkan
dari berbagai pangkalan AS, menunjukkan betapa mengancamnya kehadiran
militer AS itu sendiri.
Ia meyakini tidak ada satu pun negara yang akan mengabaikan hal
tersebut jika menghadapi kondisi demikian.
“Apa yang telah dilakukan Iran, dan terus dilakukan, adalah respons
terukur yang didasarkan pada pembelaan diri yang sah, dan sama sekali
bukan inisiasi perang atau agresi,” tulisnya.
“Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat pada awalnya tidak
bermusuhan, dan interaksi awal antara rakyat Iran dan Amerika tidak
diwarnai dengan permusuhan atau ketegangan,” imbuhnya.
Titik balik hubungan AS-Israel adalah ketika kudeta 1953, yaitu saat
AS secara ilegal mengintervensi dengan tujuan mencegah nasionalisasi
sumber daya Iran.
Kudeta itu, kata Pezeshkian, mengganggu proses demokrasi Iran,
mengembalikan kediktatoran, dan menabur ketidakpercayaan mendalam di
kalangan warga Iran terhadap kebijakan AS.
“Ketidakpercayaan ini semakin dalam dengan dukungan Amerika terhadap
rezim Shah, dukungannya terhadap Saddam Hussein selama perang yang
dipaksakan pada tahun 1980-an, pemberlakuan sanksi terpanjang dan
terlengkap dalam sejarah modern, dan akhirnya, agresi militer tanpa
provokasi, yang diluncurkan dua kali di tengah negosiasi terhadap
Iran,” tulis Pezeshkian, tulis cnni. (dika-01)
