H Satono, Bupati Sambas terpilih. (Foto: Istimewa)
Jakarta, hariandialog.co.id – Jika Kabupaten Belitung Timur punya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, maka Kabupaten Sambas punya Haji Satono. Saat dilantik sebagai Bupati Belitung Timur, Bangka Belitung, tahun 2010 Ahok berusia 34 tahun, Satono yang akan dilantik sebagai Bupati Sambas, Kalimantan Barat, 14 Juni nanti, berusia 41 tahun. Keduanya sama-sama milenial.
Keduanya juga sama-sama mengusung jargon pemerintahan yang bersih dan efektif. Pun, keduanya sama-sama tak terlalu mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Baik Ahok maupun Satono sama-sama menyiapkan karpet merah bagi investor.
Bedanya, Ahok seorang Nasrani, sedangkan Satono seorang Muslim, bahkan Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia Kabupaten Sambas.
Bedanya pula, Ahok berlatar belakang pengusaha, sedangkan Satono seorang birokrat. Bedanya lagi, Ahok sosok yang kontroversial dan meledak-ledak, sedangkan Satono normatif dan adem-adem saja.
Namun, keduanya merupakan “rising star” (bintang bersinar) di dunia politik. Setelah menjadi Bupati Belitung Timur, Ahok ke Senayan, Jakarta, menjadi anggota DPR RI, dan kemudian Wakil Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Joko Widodo yang kini Presiden RI, dan akhirnya Gubernur DKI Jakarta.
Satono pun diyakini bisa nengikuti jejak Ahok dalam karier politik. Bekalnya sebagai pejabat eselon 3 di Sambas, serta keberhasilannya mengalahkan petahana dinilai cukup sebagai “starting point” (titik awal) di dunia politik.
Terpanggil
Satono bersama pasangannya, Fahrur Rofi, membuat kejutan dengan memenangkan Pilkada Kabupaten Sambas, 9 Desember 2020. Padahal posisinya “underdog” atau tidak diperhitungkan dibandingkan dengan tiga pasangan calon lain, terlebih melawan petahana, Athah-Hairiah. Satono yang diusung Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN) bukan kader partai politik atau figur terpandang di daerahnya. “Saya ini cuma PNS eselon 3. Waktu itu kami diprediksi orang tidak akan menang, apalagi saya keturunan Tionghoa dan melawan petahana,” katanya kepada sejumlah editor senior pada acara Halal Bihalal di Jakarta, Selasa (25/5/2021).
Satono mengaku terpanggil untuk memperbaiki perekonomian daerahnya yang menurutnya kurang diupayakan oleh kepala-kepala daerah sebelumnya.
“Memang APBD Kabupaten Sambas kecil, tapi harus dikelola secara maksimal dengan program-program konkret. Yang dibutuhkan masyarakat adalah kesempatan kerja dan berusaha, kesehatan, dan pendidikan,” kata Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Sambas ini.
Satono bertekad apa yang dibutuhkan masyarakat daerahnya harus dipenuhi dan pihaknya berusaha merangkul berbagai pihak untuk bersama-sama memajukan ekonomi daerahnya, seperti para petinggi di pemerintah pusat, pengusaha, putra daerah sukses, hingga media massa.
“Terus terang Kabupaten Sambas ini kurang dikenal. Kami punya komoditas jeruk Siam dengan produksi 1,2 jutaan ton per tahun, misalnya, tapi orang tahunya jeruk Pontianak,” jelasnya.
Sambas juga memiliki figur-figur putra daerah yang berhasil seperti dari Kecamatan Pemangkat, salah satu dari 19 kecamatan di Sambas, dan telah menjadi pengusaha maupun profesional sukses, di antaranya Vincent Claudius pemilik Swan Jewellery, Benny Wennas, Chairman Barly Group, Djap Tet Fa, Chief Executive Officer (CEO) Astra Tol Nusantara, dan Jun Men, pebisnis ekspor-impor.
“Mereka bisa menjadi contoh, sekaligus berperan memajukan daerah melalui pengalamannya sebagai pelaku usaha,” ujar alumni Pesantren Ibnu Taimiyah, Singkawang, ini.
Satono sadar bahwa pemerintah daerah tidak bisa memajukan daerah hanya dengan menggantungkan APBD, sehingga membutuhkan investor, sektor jasa keuangan seperti perbankan, serta pelaku usaha, agar potensi sumber daya ekonomi yang ada di Sambas bisa dimanfaatkan untuk pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Ada sektor-sektor yang memiliki keunggulan komparatif di daerah Sambas seperti pertanian, hortikultura, dan perikanan, untuk diolah secara kompetitif demi meningkatkan nilai tambah ekonomi.
“Pariwisata juga perlu dikembangkan untuk meningkatkan mobilitas orang, sehingga bisa menumbuhkan sektor UMKM,” paparnya.
Pemerintah Kabupaten Sambas, kata Satono, akan mengundang investor dan pelaku usaha untuk ikut mengolah berbagai potensi sumber daya alam tersebut. “Agar investor tertarik datang ke Sambas, kami tentunya perlu memperbaiki kualitas birokrasi agar menjadi lebih efektif dan menfasilitasi berbagai kepentingan masyarakat maupun investor yang ingin berperan dalam pembangunan ekonomi Sambas. Kami siapkan karpet merah bagi investor,” tandasnya. (yud)
