Makassar, hariandialog.co.id.- Jemaah asal embarkasi Makassar
menggelar tradisi khas Sulawesi Selatan yang dikenal Mappatoppo atau
‘wisuda’ haji yang dilaksanakan usai menjalani puncak ibadah haji di
Arafah dan di Mina.
Di kalangan masyarakat Sulsel, Mappatoppo merupakan
ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur, sekaligus pengesahan simbolik
terhadap gelar haji yang telah diraih.
Prosesi ini juga menjadi wadah mempererat kebersamaan jemaah
serta ekspresi suka cita usai menyelesaikan salah satu rukun Islam
yang paling agung.
“Tradisi ini tidak sekadar seremonial. Ini adalah ungkapan syukur dan
wujud kekhusyukan atas nikmat Allah yang telah memperkenankan kita
menyelesaikan rangkaian haji dengan selamat,” kata Pembimbing Ibadah
Kloter 6 UPG, Musriadi dikutip laman Kemenag Sulsel, Minggu, 8 Juni
2025.
Ritual Mappatoppo digelar di dalam tenda jemaah dan
dilaksanakan usai para jemaah asal Sulsel setelah melontar jumrah
aqabah di Mina.
Jemaah mengenakan pakaian rapi, sebagian mengenakan baju
putih, dan satu per satu “diwisuda” dengan disematkan jilbab atau
sorban di kepala, sebagai simbol penghormatan atas gelar “Haji” yang
telah sah disandang. “Mappatoppo ini menjadi simbol bahwa perjuangan
spiritual mereka telah mencapai puncaknya,” ujarnya.
Tradisi tersebut berlangsung dengan diiringi shalawat dan doa
bersama seluruh jemaah haji asal Sulsel tersebut. Tradisi ini
mencerminkan kearifan lokal yang terus dilestarikan oleh masyarakat
Bugis-Makassar, meski jauh dari kampung halamannya. “Kami sebagai
Ketua Kloter merasa bangga melihat semangat dan kekompakan jemaah,”
tuturnya.
Para jemaah haji asal Sulsel, kata Musriadi terus menjaga
keberlangsungan tradisi Mappatoppo ini, sehingga diharapkan semakin
memperkokoh soliditas antar jemaah dan membawa pulang semangat haji
yang penuh berkah, tidak hanya dalam bentuk gelar, tetapi juga dalam
perilaku dan keteladanan sebagai insan yang telah menunaikan ibadah
haji. “Semoga menjadi haji yang mabrur,” imbuhnya, tulis cnni.
(edy-01)
