Simalungun, hariandialog.co.id. Puluhan masyarakat adat mengalami luka
luka setelah terlibat bentrok dengan ratusan pekerja PT Toba Pulp
Lestari (TPL) di lahan pertanian masyarakat adat Buntu Panaturan, Desa
Nagori Sihaporas, Pematang Sidamanik, Simalungun, Sumatera Utara
(Sumut).
Kapolres Simalungun, AKBP Marganda Aritonang, meminta kedua belah
pihak agar menahan diri.
“Saya berharap agar masing-masing pihak, baik dari masyarakat
Sihaporas maupun dari PT TPL, untuk dapat saling menahan diri dan
tidak melakukan kegiatan di lokasi yang dapat menjadi konflik sehingga
kejadian yang sama tidak terjadi lagi di kemudian hari,” kata AKBP
Marganda Aritonang, Selasa, 23 September 2025
Marganda mengungkapkan bahwa permasalahan yang terjadi antara PT TPL
dengan masyarakat adat telah berlangsung lama. Sebab masing-masing
pihak mengklaim paling berhak mengelola lahan itu.
“Latar belakang permasalahan sudah lama, sejak tahun 2015 sampai saat
ini belum selesai. Permasalahan dimulai dari masing-masing pihak
saling mengklaim lahan yang berada di desa Sihaporas tersebut,”
ungkapnya.
Marganda menyebutkan Polres Simalungun telah melakukan langkah-langkah
strategis untuk meredam konflik. Personel kepolisian diturunkan ke
lokasi untuk melakukan pengamanan.
“Kami sudah melakukan upaya pengamanan untuk menarik kedua belah pihak
dari lokasi konflik guna meminimalisir korban. Kita juga sudah
berhasil mengosongkan lokasi. Saya juga melakukan wawancara dengan
para korban guna memberikan gambaran kepada petugas terkait tindak
lanjut ke depan dan bagaimana keadaan situasi di TKP pada saat terjadi
keributan,” ujarnya.
Dia menjelaskan saat kejadian evakuasi dilakukan secara bertahap.
Masyarakat adat juga terlebih dahulu kembali ke kampungnya, kemudian
polisi juga mengosongkan area dari karyawan atau petugas PT TPL.
Menurutnya upaya mediasi juga telah dilakukan melalui pertemuan dengan
pihak-pihak terkait. Bahkan kedua belah pihak juga telah diimbau agar
tidak melakukan kegiatan di area konflik.
“Kami sudah melaksanakan kegiatan pertemuan dengan pihak TPL dan
pangulu dari Desa Sihaporas untuk menyampaikan bahwa lokasi kejadian
dianggap menjadi status quo. Kami meminta agar seluruh pihak untuk
sabar dan menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan apa pun
sementara di daerah konflik,” tegasnya.
Namun begitu, Marganda memastikan situasi sudah aman. Sehingga
masyarakat tidak perlu khawatir untuk beraktivitas kembali. Sebab
personel kepolisian yakni Brimob satu kompi telah diturunkan untuk
melakukan pengamanan di sekitar lokasi kejadian.
Sebelumnya, bentrokan antara ratusan pekerja PT Toba Pulp Lestari
(TPL) dengan petani adat kembali pecah pada Senin 22 September 2025
pagi di lahan pertanian masyarakat adat Buntu Panaturan, Desa/Nagori
Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, yang hanya berjarak sekitar
2-3 kilometer dari bibir Danau Toba, kawasan Dolok Mauli-Sipolha.
Dalam insiden itu, sedikitnya 34 petani yang tergabung dalam Lembaga
Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita (Lamtoras) mengalami
luka-luka akibat bentrokan.
Dari jumlah itu, 10 orang harus menjalani perawatan intensif. Tak
hanya itu sepeda motor milik petani dirusak, 10 unit di antaranya
dibakar, 4 unit rumah warga dibakar, hasil panen hancur. Tak hanya
itu, mahasiswi IPB dan juga anak disabilitas disebut diduga jadi
korban kekerasan oleh security PT TPL, tulis cnni. (alfi-01)
