
Denpasar, hariandialog.co.id – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga keuangan menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang berkelanjutan, Ia mengapresiasi kolaborasi erat antara Pemerintah Provinsi Bali dengan OJK dan Bank Indonesia.
“Hubungan harmonis telah berperan besar dalam memperkuat sektor perbankan dan ekosistem ekonomi di Bali, “ ungkap Gubernur Bali Wayan Koster. saat pengukuhan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali Parjiman, di Kantor OJK Bali, Denpasar, Selasa (14/4).
Parjiman resmi menjabat Kepala OJK Provinsi Bali awal Maret 2026, menggantikan Kristrianti Puji Rahayu. Ia bertugas memimpin pengawasan sektor jasa keuangan di Bali, termasuk penertiban lembaga keuangan ilegal.
“Sinergi dan kolaborasi dengan lembaga keuangan di Bali berjalan sangat baik dalam mendukung ekosistem perekonomian, termasuk memperkuat perbankan daerah maupun nasional,” ujarnya,seraya menyoroti capaian ekonomi Bali yang tumbuh positif di tengah berbagai tantangan.

Ia menyebut,tahun 2025, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) tercatat mencapai 7,05 juta orang, meningkat sekitar 750 ribu dibandingkan tahun sebelumnya. Secara total, kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara mencapai lebih dari 16,3 juta orang.
Menurut Koster, tingginya angka kunjungan ini menunjukkan daya tarik Bali sebagai destinasi wisata dunia tetap kuat, meskipun dihadapkan berbagai isu seperti kemacetan, sampah, dan kampanye negatif di media sosial,“Bali tetap dicintai wisatawan. Astungkara, kunjungan terus meningkat,” sebut Koster..
Dari sisi ekonomi, Bali mencatat pertumbuhan sebesar 5,82 persen, menempatkannya di posisi empat nasional. Koster menegaskan capaian ini istimewa mengingat Bali tidak memiliki sumber daya tambang seperti daerah lain. Selain itu, pendapatan per kapita meningkat, kesenjangan menurun, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 79.
Pariwisata masih menjadi tulang punggung ekonomi Bali dengan kontribusi mencapai 66 persen terhadap perekonomian daerah. Bahkan, Bali menyumbang sekitar 55 persen devisa pariwisata nasional atau setara Rp176 triliun dari total Rp319 triliun.
“Bali ini kecil, tetapi berkah. Kontribusinya sangat besar bagi nasional.
Meski demikian, ia mengakui tingginya aktivitas pariwisata juga membawa konsekuensi berbagai persoalan seperti kemacetan, infrastruktur, sampah, air, dan ketahanan pangan. Untuk itu, diperlukan penguatan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan OJK, guna menjaga keseimbangan pembangunan.
Koster menyinggung upaya pelestarian budaya Bali, termasuk pemberian insentif bagi keluarga dengan anak ketiga dan keempat menggunakan nama tradisional Nyoman dan Ketut bagian dari menjaga warisan leluhur.
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK RI Hermawan Bekti Sasongko menegaskan, pengukuhan Kepala OJK Bali,bukan sekadar seremoni,melainkan momentum memperkuat kolaborasi mendukung perekonomian daerah.Ia menilai Bali merupakan contoh daerah dengan pertumbuhan ekonomi kuat, meskipun menghadapi tantangan akibat tingginya aktivitas ekonomi dan pariwisata.
“ Permasalahan di Bali adalah problem of success, dampak dari kesuksesan itu sendiri,” ujarnya, .
Hermawan menyoroti peran penting UMKM dan lembaga keuangan, termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dalam menggerakkan ekonomi Bali. OJK, akan terus mendorong profesionalisme dan memperkuat pengawasan sektor jasa keuangan.
Koster berharap kepemimpinan baru di OJK Bali dapat melanjutkan kinerja telah berjalan baik serta memperkuat kontribusi sektor keuangan mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan.(*/NL)
