Jakarta, hariandialog.co.id.- — Biro Pusat Nasional NCB Interpol
Divisi Hubinter Polri mengungkap bahwa Indonesia kini mulai menjadi
destinasi pusat operasi sindikat kejahatan online untuk wilayah
Indo-Cina dan Asia Tenggara.
Hal itu disampaikan Ses NCB Interpolei Polri, Brigjen Untung
Widyatmoko dalam jumpa pers penggrebekan kantor sindikat judol di
kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Minggu, 9 Mei 2026 “Perkembangan
hari ini menunjukkan bahwa pola pergeseran tindak pidana transnasional
sudah mulai beralih ke Indonesia,” kata Untung dalam paparannya.
Menurut dia, penggerebekan kantor sindikat judol dengan jumlah
pelaku yang mencapai 321 warga negara asing (WNA) tersebut merupakan
kelanjutan dari pengungkapan sindikat yang sama di Batam, Kepulauan
Riau beberapa waktu lalu.
Semula, kata Untung, basis operasional sindikat kejahatan
online berada di beberapa wilayah kawasan Asia Tenggara lain, seperti
Myanmar, Kamboja, Laos, hingga Vietnam. Bukan hanya judol,
kejahatannya juga meliputi love scam maupun investasi online. “Setelah
ditertibkan, mulai terjadi pergeseran ke Indonesia dan itu tentunya
sudah kami antisipasi dan kami prediksi,” katanya.
Sebelumnya, kata Untung, sindikat kejahatan online itu juga
telah terungkap di beberapa kota di luar Jakarta. Selain Batam, ada
pula di Surabaya, Denpasar, Surakarta, Yogyakarta, Sukabumi, dan
Bogor.
Meski begitu, Untung mengungkap bahwa pihaknya belum memiliki
data persis.
Menurut dia, mereka yang datang ke Indonesia umumnya karena
ajakan dari para pelaku sindikat terdahulu. Mereka datang menggunakan
izin wisata, selain karena fasilitas bebas visa kunjungan. Apalagi,
Indonesia belakangan terus melakukan promosi wisata.
Namun, bukan hanya Indonesia, ada pula beberapa negara lain
yang menjadi tujuan, seperti Afrika Selatan hingga Uni Emirat Arab.
“Ada fasilitas bebas visa kunjungan. Kan kita juga sadar, di satu sisi
pemerintah kita juga butuh adanya peningkatan angka pariwisata. Itu
tidak bisa dipungkiri, ya. Kita butuh adanya kunjungan wisatawan ke
Indonesia. Tetapi di sisi lain, memang ini ada seperti dua sisi mata
uang,” katanya, tulis cnni. (rojak-01)
