Bogor, hariandialogco.id.- Kini terungkap sudah sosok Susanah, wanita penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) yang dipanggil Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Prabowo menyebut bahwa Susanah berprofesi sebagai pengupas bawang di Kabupaten Bogor. “Hari ini hadir bersama kita ibu Susanah, dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengann upah Rp 700 ribu per kilogram,” kata Presiden Prabowo Subianto.
Diduga Prabowo salah menyebut nominal upah yang diperoleh Susanah sebagai pengupas bawang.
Namun hingga kini belum ada konfirmasi terkait dengan masalah tersebut.
Hal berbeda lainnya tertuang dalam daftar 8 persona terpilih dalam pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam daftar tertulis bahwa Susanah berasal dari Kota Bogor, bukan Kabupaten Bogor. https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https://web.facebook.com/TRIBUNnewsBogor/posts/pfbid02q7UuriEJEB1howwwiA4iJWuNCnj1wnnzMEFdi54E6ov6ouKDC6JryJDP5A9ecxiUl&show_text=true&width=500 https://6c1850e50b69de0799885b1e924add23.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-45/html/container.html Perbedaan lainnya tertulis di artikel yang dipublish website Komdigi RI.
Dalam artikel dituliskan sosok Susanah.
Susanah ditulis sebagai ibu tiga anak yang berusia 38 tahun.
Ia berasal dari Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Dia tamatan sekolah dasar (SD).
Anak pertama sudah lulus SMA, kedua masih SMP, dan si bungsu SD.
Ditulis dalam artikel, Susanah menjalani dua pekerjaan.
Saat pagi Susanah bekerja sebagai penjahit kain majun,kain percata atau potongan sisa bahan yang dijadikan menjadi lap pembersih.
Ia menjahit dari pukul 07.00 WIB sampai siang.
Dia mendapat upah Rp700 per kilogram.
Dalam satu hari, Susanah mampu menjahit 20 kilogram kain majun.
https://2b66c762b82d5d74c88b47520b345162.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-45/html/container.html Pukul 13.00 WIB, Susanah beralih profesi menjadi pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
Dia bertugas sebagai pencuci ompreng.
Susanah memiliki suami bernama Didim. Sang suami bekerja sebagai buruh bangunan.
Keduanya berusaha mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-anaknya.
https://2b66c762b82d5d74c88b47520b345162.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-45/html/container.html Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan pada Jumat (14/8/2026). “Perlindungan sosial harus semakin tepat sasaran, mudah, dan bermartabat. Per hari ini, digitalisasi pendaftaran bantuan sosial telah berjalan di 143 kabupaten dan kota pada 26 provinsi. Lebih dari 1 juta keluarga telah terdaftar menuju target 12,5 juta keluarga,” katanya.
Ia mengatakan sebelum adanya digitalisasi, keluarga tidak mampu harus mengeluarkan uang sebesar Rp 150 ribu. “Sebelumnya, keluarga tidak mampu dapat mengeluarkan sekitar 150.000 Rupiah untuk perjalanan, dokumen, fotokopi, dan waktu kerja yang hilang. Sekarang pendaftaran dapat dilakukan tanpa biaya, gratis,” katanya.
Menurutnya butuh waktu selama 200 hari untuk pemeriksaan.
“Pemeriksaan kelayakan yang sebelumnya dapat memakan waktu 75 sampai 200 hari kini dapat kita selesaikan dalam hitungan menit atau jam,” katanya.
Presiden Prabowo Subianto menekankan, masyarakat tidak boleh membayar itu semua. “Rakyat tidak mampu tidak boleh membayar untuk membuktikan bahwa ia tidak mampu. Rakyat juga tidak boleh berkali-kali menyerahkan data yang sebenarnya sudah dimiliki negara,” katanya., tulis tribunebogor. (tim-red)
