Jakarta, hariandialog.co.id.– Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan
produktivitas sumber daya manusia (SDM) RI sangat rendah jika
dibandingkan negara-negara lain di Asia, seperti China, India, bahkan
Filipina. Hal itu tercermin dari rendahnya sumber pertumbuhan produk
domestik bruto (PDB) Indonesia terhadap total factor productivity
(TPF).
TPF menggambarkan produktivitas dari tingkat efisiensi
penggunaan kombinasi input kapital dan tenaga kerja, termasuk aspek
peningkatan teknologi. Rendahnya TPF mencerminkan tingginya
inefisiensi dalam suatu proses produksi. “Ini terlihat dalam
komparasi terhadap negara-negara lain. Dihitung dari total factor
productivity, maka kita lihat sumber daya manusia Indonesia
dibandingkan dengan negara-negara lain masih di bawah,” ujarnya dalam
webinar bertajuk ‘Akselerasi Indonesia Maju Melalui Penanaman Modal
dan Insentif Fiskal’, Kamis (1/4).
Ani, sapaan akrabnya, menjelaskan pertumbuhan PDB
Indonesia yang sebesar 5,3 persen pada 2017berasal dari 4,6 persen
kapital dan 0,6 persen tenaga kerja. Sementara, kontribusi TPF
terhadap pertumbuhan PDB Indonesia hampir nol persen. “Setiap kali
kita mau grow (tumbuh), kita hanya didominasi oleh nambah modal yang
banyak dan menambah jumlah tenaga kerja. Nyaris tidak ada TPF,”
imbuhnya.
Hal tersebut jauh berbeda dengan China yang TPF-nya
berkontribusi sebesar 2,3 persen dari total pertumbuhan PDB sebesar
7,3 persen pada periode yang sama.
Sementara, kontribusi kapital dan tenaga kerja terhadap PDB China
masing-masing 4,8 persen dan 0,1 persen.
“Itu artinya kita lebih banyak tumbuh dengan menggunakan otot dan
keringat, tapi tidak menciptakan nilai tambah berdasarkan inovasi,”
jelasnya.
Menurut Ani, minimnya kontribusi TPF dalam pertumbuhan
PDB RI disebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia serta
tenaga kerja yang mayoritasnya berada di sektor informal. Selain itu,
rendahnya TPF juga disebab minimnya utilisasi dan adopsi teknologi.
“Persoalan demografi muda merupakan kekuatan Indonesia. Namun, kalau
kita tidak membuat SDM kita mampu berinovasi dan bisa terus bekerja
dengan teknologi sehingga produktivitasnya naik, maka kita selalu
outcompete,” tandasnya. (cnni/pitta)
