Jakarta,hariandialog.co.id -Permasalahan sampah di kota-kota besar, termasuk di Jakarta sudah merupakan isu prioritas lingkungan hidup yang kerap menjadi sorotan utama. Karena keberadaan sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas domestik, industri, pertanian, peternakan, transportasi, dan aktivitas lainnya akan mengakibatkan terjadinya pencemaran udara, banjir, dan juga pencemaran air yang harus segera ditangani.
Untuk itu, dalam penanggulangan sampah tersebut Suku Dinas LIngkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Utara terus menggiatkan Gerakan Sedehak Sampah Plantik, Kayu, Karet Residu (Dasi Kaka Besi) untuk mengatasi maupun menanggulangi tren jumlah sampah yang terus meningkat dan besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk mengelolah sampah.
Dimana konsep Sedekah Sampah yang baru hanya diterapkan oleh Sudin LH Jakut ini berkolaborasi dengan Rumah Ibadah (Masjid, Gereja, Wihara), masyarakat (RPTRA?PKK/Dasawisma/DWP), Komunitas sosial (Oase Anak Bangsa ), Komunitas Lingkungan Hidup (Resea Project). Dengan tujuan meminimalisasi berbagai jenis sampah untuk dibawa ke Tempat Pembuanga Akhir (TPA) Sampah.
Dimana dalam Konsep Dasi Kaka Resi yang digiatkan Sudin LH Jakut ini, seperti dikatakan Kasi Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 (PKLB3), Henrik Sihombing kepada Dialog, Senin (25/10/21) dengan Moto “ Sedekah Sampah Membuat Lingkungan Bersih dan Sampah Tertangani “. Selain itu dengan menagajak masyarakat khusunya mereka yang berdomisili di wilayah Jakarta Utara, untuk bersedekah sampah yang menjadikan lingkungan bersih dan mendapat pahala.
Sedangkan Implementasi Sedekah Sampah Plastik, Kayu, Karet dan Residu, dengan mengedukasi masyarakat tentang program Dasi Kaka Resi, Membentuk Penguatan Kelembagaan, memberi dukungan sarana dan prasarana berupa timbangan, karung, dan lain-lain. Dengan demikian maka sampah bernilai ekonomis dikirim ke Bank Sampah dan yang tidak bernilai ekonomis dikirim ke mitra kerja. “Jadi masyarakat mulai mengumpulkan dan memilah sampah sebagai wujud sedekah,” kata Kasudin LH Jakut Haryadi seperti ditirukan Henrik Sihombing.
Dari pemilahan sampah bernilai ekonomis tersebut, sejumlah kegiatan pembangunan bisa dilakukan seperti Pembangunan Mushola Baitul Muttaqoin Al Bimawi RT 20 RW 07 Kelurahan Tugu Selatan, Renovasi Mushola Sudin LH Jakut, Sunatan Masal, pemberitaan bantuan makanan kepada yang membutuhkan, santunan kepada anak yatim piatu.
Selain itu juga dengan terjadinya pemilahan sampah melalui sedekah sampah yang saat ini terdiri dari 386 lembaga, maka sejak Juli lalu sebanyak 368.083 Kg sampah sudah tertangani yang terdiri dari 44.518 Kg sampah bernilai dan 323.565 Kg sampah yang tidak bernilai.
Masih dikatakan Henrik Sihombing, dengan sedekah sampah yang diterapkan Sudin LH Jakut tersebut dapat memperlampat terjadinya gunung sampah di tempat TPST. “Namun kegiatan sedekah sampah ini harus terus digalakkan dengan menngajak lapisan masyarakat mengingat masih banyaknya sampah yang bernilai ekonomis yang dibuang oleh warga maupun masyarakat,” katanya. (Het)
