Grobogan, hariandialog.co.id – Memperhatikan situasi dan kondisi perekonomian dan ketersediaan pangan sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional Kabupaten Grobogan masih dalam batas aman-aman saja. Walau situasinya baru mengalami penurunan produksi panen.
Sekdin Ketahanan Pangan Kukuh Prasetyo Rusady, SH,MM mengatakan bahwa memang di awal panen MT. I ini kurang menggembirakan, karena faktor cuaca dan musim. Tapi mudah-mudahan dengan cuaca yang semakin membaik panen kembali normal dan membaik. Salah satu yang dilakukan adalah baru-baru ini Bulog telah mengadakan operasi pasar yaitu di pasar Godong, Wirosari, dan Purwodadi masing-masing + 5 ton beras.
Dengan harapan harga gabah terjangkau oleh masyarakat, sekarang harga gabah sudah naik karena pembeli atau tengkulak berani membeli dengan harga cukup tinggi. Tahun 2022 Grobogan di tingkat nasional masih termasuk terdepan dibanding daerah lain, harga beras dari pemerintah sebetulnya dipatok + Rp. 9.000,- / per kg.
Sementara itu Kabag Perekonomian Agus BK, SE,MM mengatakan bahwa kota-kota yang ada di Jawa Tengah oleh BPS adalah Semarang, Kudus, Cilacap, Surakarta, dan Tegal; untuk inflasi di Kudus yang dinilai pusat. Untuk Grobogan akhirnya mengikuti dampaknya. Kabupaten Grobogan masih lebih bagus dari Kudus, soalnya tidak ada dampak harga yang tidak turun, PHK karyawan dsb.
Selanjutnya diadakan operasi pasar, penanaman komoditas penting terutama bawang merah dan cabe merah. Pemda dan Kodim telah memberikan bantuan bibit cabe merah agar desa dapat memproduksi cabe sendiri agar tidak terjadi kelangkaan.
Juga ada pemantauan harga-harga, operasi pasar, rakon rutin setiap saat dengan Pemda dan juga kerjasama dengan daerah penghasil komoditas yang langka.
Pertanian di Grobogan bisa menyumbangkan ke tingkat nasional. Selanjutnya setiap hari Senin Kementerian Dalam Negeri mengadakan rapat di seluruh kabupaten/kota untuk antisipasi inflasi gabah. (Sul/Sub)
