Denpasar, hariandialog.co.id – Jumlah investor Pasar Modal wilayah Bali masih menunjukkan pertumbuhan tinggi mencapai double digit dibandingkan posisi sama tahun 2024. Pada Maret 2025, jumlah investor saham di Bali sebanyak 151.096 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 22,68 persen yoy. Demikian juga dengan jumlah investor Reksa Dana dan SBN yang masing-masing tumbuh sebesar 21,80 persen yoy dan 18,11 persen yoy.
Nilai kepemilikan saham di Bali mencapai Rp 5,36 triliun atau tumbuh 12,59 persen yoy, sementara nilai transaksi saham sebesar Rp2,25 triliun atau tumbuh 16,83 persen yoy.
Pembiayaan Bermasalah Rendah
Piutang Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan di Bali posisi Maret 2025 mencapai Rp12,21 triliun, tumbuh 8,95 persen yoy, lebih rendah dibandingkan posisi Maret 2024 yang tumbuh sebesar 18,44 persen yoy.
Pembiayaan tersebut didominasi oleh pembiayaan kepada Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor (market share 21,04 persen), serta pembiayaan kepada Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi, Ketenagakerjaan, Agen Perjalanan dan Penunjang Usaha Lainnya (market share 13,77 persen).
Di sisi lain, tingkat pembiayaan bermasalah relatif rendah dan terkendali. Tingkat Non Performing Financing (NPF) posisi Maret 2025 sebesar 1,03 persen, sedikit meningkat dibandingkan posisi Maret 2024 yang sebesar 0,95 persen.
Sementara itu, penyaluran pembiayaan melalui Modal Ventura di Provinsi Bali sebesar Rp92,82 miliar dengan pertumbuhan sebesar 3,94 persen yoy, meningkat dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 3,36 persen yoy. Tingkat Non Performing Financing (NPF) Modal Ventura posisi Maret 2025 relatif rendah dan terkendali yaitu sebesar 1,19 persen, membaik dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 1,42 persen. (Smn)
